Lirih

Posted on December 10th, 2008 in Uncategorized by andika-ni

Adakah kau mengerti kasih, rindu hati ini tanpa kau di sisi…

Mungkinkah kau percaya kasih, bahwa diri ini ingin memiliki lagi…

Photography is whole lotta FUN!!!

Posted on November 5th, 2008 in Uncategorized by andika-ni

Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget fotografi. Setelah jepret sana-sini pake kamera digital biasa, saya jadi tertantang untuk bikin karya-karya indah pake kamera DSLR.

So….*klik*…*klik*……A whole lotta fun…!

I Remember…

Posted on October 10th, 2008 in Uncategorized by andika-ni

Gila! Dulu waktu jaman SMA dan kuliah, temen-temen sering becanda mengenai “bagaimana ya kita nanti kalo sudah pada nikah, sudah pada punya anak trus ketemuan…bla…bla…”. Ujung-ujungnya percakapan itu cuma jadi lelucon segar pada moment itu. Dan biasanya ujung dari topik tersebut hanyalah joke seputar teman-teman tentang khayalan itu.

Dan, seperti baru kemarin, sekarang ini semua khayalan itu sudah terjadi. Tadi malam habis jalan cari dinner, saya bersama istri dan bayi 1 tahun kami, kita mampir ke rumah seorang teman lama yang sekarang back to Makassar. Sudah punya istri juga dan seorang putra berusia 2 tahun lebih dikit.

Dan percakapan mengenai rumah tangga, anak-anak, pendidikan anak bahkan susu anak pun mendominasi percakapan 2 jam kami. Tentu saja diselingi dengan cerita mengenai teman-teman yang lain dan juga sesekali mengenai lokasi rumah yang enak untuk dijadikan tempat tinggal sekarang. Tapi intinya adalah, berbeda jauh sekali dengan jaman jahiliyah dulu. Apalagi jaman kegelapan waktu kuliah dan setiap satu semester berlalu, saya harus melihat IP “nol-koma-sekian” atau paling banter “satu-koma-sekian” di rapor saya dimana pada saat itu dunia selalu terlihat lebih gelap dari biasanya. Syukurlah, sekarang kondisi itu sudah berbalik 180 derajat.

Masa lalu adalah sejarah yang menyimpan kenangan, masa depan adalah ilusi yang menyimpan harapan. Yang betul-betul kita miliki hanyalah hari ini, dalam genggaman. Waktu…satu-satunya milik kita yang paling berharga.

Today…is the best day of my life.

Kisah Nyata yang Mengesankan dan Menggetarkan

Posted on April 8th, 2008 in Uncategorized by andika-ni

Pada tahun 1971, surat kabar New York Post menulis mengenai seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, USA:

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik hati, yang sangat mencintainya. Sayangnya, ia tidak pernah menghargai istrinya itu. Ia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Ia sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan istrinya. Suatu malam pria ini memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Ia mencuri uang tabungan istrinya, lalu dengan bis ia menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama beberapa orang temannya ia memulai bisnis, dan untuk beberapa saat pria ini menikmati hidupnya. Sex, gambling dan drugs…semua ia nikmati.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal dan ia mulai kekurangan uang. Lalu ia banyak terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang lain. Akhirnya, pada suatu saat naas, ia tertangkap. Polis menjebloskannya ke dalam penjara dan pengadilan menghukumnya 3 tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, si pria mulai merindukan rumahnya. Ia merindukan istrinya, anaknya dan keluarganya. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia dan bahwa dia masih sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Ia berharap masih boleh kembali, namun ia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat. Oleh karena itu, ia mengakhiri suratnya dengan menulis :

"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning untukku pada satu satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, it’s okay, aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan aku akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji, aku tidak akan pernah lagi mengganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku".

Akhirnya, hari pelepasan dari penjara tiba. Ia sangat gelisah. Ia tidak menerima surat balasan dari istrinya. Ia tidak tahu apakah istrinya menerima suratnya, atau sekalipun istrinya membaca surat tersebut, apakah istrinya mau memaafkannya? Pria itu naik bis menuju Miami, Florida dan melewati kampung halamannya, White Oak. Ia sangat sangat gugup.

Sepanjang perjalanan seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada supir bis tersebut,"Tolong, ketika melintasi White Oak, menyetirlah perlahan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi". Pria tersebut semakin berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Ia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya, ia melihat pohon itu. Air mata menetes di matanya. Ia tidak melihat sehelai pita kuning. Tidak sehelai pita kuning di pohon itu. Tidak ada sehelai…

Tidak sehelai, melainkan ada  seratus helai pita-pita kuning…….bergantungan di pohon beringin itu. Seluruh tubuh pohon beringin satu-satunya di pusat kota White Oak, Georgia itu dipenuhi pita berwarna kuning…!!!

Sang supir bis langsung menelepon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu "Tie A Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree". Dan ketika album ini dirilis pada bulan Februari tahun 1973, di bulan April 1973 lagu tersebut menjadi hits no.1 di Amerika.

Tie A Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree

I’m comin’ home
I’ve done my time
Now I’ve got to know what is and isn’t mine
If you received my letter telling you I’d soon be free
Then you’ll know just what to do
If you still want me
If you still want me

Tie a yellow ribbon ’round the old oak tree
It’s been three long years
Do you still want me
If I don’t see a ribbon around the old oak tree
I’ll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don’t see a yellow ribbon around the old oak tree

Bus driver
Please look for me
‘Cause I couldn’t bear to see what I might see
I’m really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbon’s what I need to set me free
I wrote and told her please

Tie a yellow ribbon around the old oak tree
It’s been three long years
Do you still want me
If I don’t see a ribbon around the old oak tree
I’ll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don’t see a yellow ribbon around the old oak tree

Tie a yellow ribbon around the old oak tree
It’s been three long years
Do you still want me

Now the whole damned bus is cheerin’
And I can’t believe I see
A hundred yellow ribbons around the old oak tree

(Tie a ribbon around the old oak tree)
(Tie a ribbon around the old oak tree)


–Thanks to Mr. Sadra Tjoatja for passing this story. Net-p nya bagus banget pak, sangat menginspirasi. Mercy-nya enak pak? Hehehe…doakan saya juga ya…–

To my Soulmate

Posted on March 31st, 2008 in Uncategorized by andika-ni

‘Cause I miss You…

Body and soul so strong that it takes my breath away

And I breathe You…

Into my heart and pray for the strength to stand today

‘Cause I love You…

Whether it’s wrong or right…and though I can’t be with you tonight

You know my heart is by your side

(…Bedingfield)

BOHONG

Posted on March 6th, 2008 in Uncategorized by andika-ni

Kata orang, jadi bintang 8 itu enak…

BOHONG BESAR!!!

Jadi bintang 8 itu enak sekali! Rasanya Luar Biasa!

I’ve paid my dues…

I’ve had sands that kicked at my face, but i’ve come through…

I’m ready for the next challenge, so help me GOD !

Pada Suatu Sore

Posted on November 30th, 2006 in Uncategorized by andika-ni

Tadi sore, ketika sedang dalam perjalanan di dalam kota, iseng saya memindahkan tape di dalam mobil dari kaset ke radio. Sambil nyetir, saya asyik mendengarkan penyiar radio tersebut cuap-cuap. Nah, si penyiar radio kemudian memperdengarkan potongan sebuah seminar internasional mengenai konsep kesuksesan yang dibawakan seorang pemateri yang sangat terkenal. Pemateri bule ini berbicara dalam bahasa “sono” mengenai kenapa banyak orang ingin sukses tapi yang akhirnya bisa sukses hanya segelintir orang saja. Seketika itu juga saya memasang telinga baik-baik, selain saya memang ingin menangkap ilmunya, otak saya juga masih harus men-translate bahasa dia ke bahasa saya.

Si pemateri ternyata menyampaikan hal yang sangat simpel. Dia bilang,”You are what you think most of the time”. Apa yang selalu ada dalam pikiran Anda, menentukan siapa Anda sebenarnya. Itulah yang membedakan orang sukses dan orang rata-rata. Pemateri itu kemudian melanjutkan pembahasannya dan dia menambahkan, yang selalu ada dalam pikiran orang sukses adalah ‘apa yang saya inginkan?’ sedangkan yang difokuskan oleh orang-orang gagal dalam otak mereka adalah ‘apa yang tidak saya inginkan?’.

Si pemateri memberi contoh : orang sukses selalu berpikir ‘saya ingin kaya’ atau ‘saya ingin negeri ini menjadi lebih baik’ atau ‘saya ingin ini’ atau ‘saya ingin itu’ dan ‘saya ingin anu’. Sementara orang gagal selalu berpikir ‘saya tidak ingin miskin’ atau ‘saya tidak ingin bangkrut’ atau ‘saya tidak ingin kehilangan tabungan saya’ atau ‘saya tidak ingin gagal’ atau ‘saya tidak ingin ini’ atau ‘saya tidak ingin itu’ dan ‘saya tidak ingin anu’.

Intinya adalah, orang-orang sukses dimanapun, di bidang apapun, selalu memfokuskan pikiran mereka pada apa yang betul-betul mereka inginkan, sedangkan orang gagal selalu fokus pada ketakutan mereka atas hal yang tidak mereka inginkan terjadi pada diri mereka. Tentu saja output yang dihasilkan berbeda. Keinginan yang kuat dan disertai latihan pikiran bawah sadar terus-menerus (…most of the time) bahwa mereka mampu meraihnya, membuat orang-orang sukses bergerak menuju kesuksesan mereka. Sedangkan pikiran yang selalu (…most of the time) dipenuhi ketakutan, membuat orang-orang gagal diam di tempat, mandul dan tidak kemana-mana.

Pemateri tersebut kemudian memberikan rumus sukses, yaitu : ‘thought x emotion = result’. Pikiran x emosi = hasil. Artinya, variabel ‘hasil’ baru akan keluar jika terjadi multiply (perkalian) antara pikiran dan emosi. Tidak bisa hanya salah satunya, karena kalo pikiran (thought) bernilai 1 dan emosi (emotion) bernilai 0, maka hasilnya (result) adalah 0, demikian sebaliknya. Harus dua-duanya. Artinya, kalo kita sudah punya pikiran positif mengenai apa yang kita inginkan, hal tersebut juga harus mempengaruhi emosi kita sedemikian rupa sehingga potensi bawah sadar kita juga akan muncul ke permukaan. Menurut pemateri tersebut, hal inilah yang membuat para pemimpin kharismatik selalu tampak memiliki sinar aura yang luar biasa di sekeliling mereka, sebab apa yang sudah mereka perbuat adalah hasil dari buah pikiran dan emosi mereka.

Contoh :

  • Para pemimpin revolusi selalu memiliki kharisma yang membuat para pengikutnya kagum dan bersumpah-setia sampai mati. Itu karena pikiran sang pemimpin untuk membuat negerinya menjadi lebih baik, dikalikan dengan perasaan emosi yang meluap-luap yang kemungkinan besar dihasilkan dari rasa cinta yang besar terhadap bangsanya.
  • Banyak jutawan dan miliarder di dunia ini yang memiliki masa lalu kelam dan hidup dalam kemiskinan. Hal ini mempengaruhi pikiran dan emosi mereka secara bersamaan untuk bergerak meninggalkan kemiskinan tersebut.
  • Itulah sebabnya sang juara selalu menangis pada saat menerima piala kemenangannya. Karena emosi sang juara selalu ikut menyertai seiring dengan pikiran positif untuk meraih kemenangan di arena.

Saya pikir, wow…tepat seperti itulah yang diajarkan para mentor saya. Mereka selalu mengajarkan saya untuk punya impian yang bukan asal besar, tapi juga pastikan impian itu melibatkan emosi saya sehingga menggerakkan alam bawah sadar saya. Kalau emosi dan alam bawah sadar sudah terlibat, maka saya tidak akan merasakan lelah, sakit, keringat, darah dan airmata. Dan impian saya melibatkan emosi yang paling powerful di jagad raya, yaitu cinta. I’ll be unstoppable.

The BIG picture

Posted on November 26th, 2006 in Uncategorized by andika-ni

Tadi pagi mulai pk.09.00, rumah ramai sekali. Keluarga pada datang karena ada sebuah acara. Saya sendiri terpaksa bangun pagi, mandi dan ikut turun ke bawah main sama the whole family. Main sama sepupu, om, tante dan para keponakan yang masih kecil-kecil. Tapi keenakan jadinya…lihat jam…ups, sudah setengah 3 siang. Saya harus ke OPP di Clarion Hotel. Sudah waktunya saya harus meninggalkan untuk sementara zona kenyamanan yang saya rasakan sekarang. Jadi saya naik ke kamar, pake kemeja putih, ngambil jas dari lemari, nyisir, pake sepatu, ngambil kunci mobil dan langsung meluncur.

Nyampe di Clarion, parkir mobil, naik ke ruang pertemuan. Salam-salaman bentar, tanya kabar kiri-kanan dan langsung masuk ruangan. Hmmm…rupanya OPP hari ini dibawakan Pak Yusuf, bagus sekali. Memutar pandangan…wah OPP hari ini ramai sekali. Eits, di ujung  sana ada new *6 saya, gak kebagian tempat jadi cuma bisa berdiri.  Di tengah ada new *5 saya, di dekatnya ada cewek muda dengan rambut dicat merah yang sudah beberapa minggu menyandang predikat sebagai salah satu new *4 saya.

OPP berjalan lancar seperti biasanya. Di tengah-tengah acara, beberapa kali pintu terbuka dan beberapa orang yang terlambat masuk ruangan. Setiap kali hal itu terjadi, selalu ada *4 above yang berdiri dan mempersilahkan tamu baru untuk menempati kursinya. Maklum, semua kursi terisi penuh bahkan banyak orang (termasuk saya) yang akhirnya memilih untuk berdiri. Rupanya para *4 ini sudah berada dalam proses belajar membentuk kepribadian dan profesionalisme mereka. Sip!

Kesaksian diisi seorang gadis muda yang jelas-jelas sangat berterima-kasih kepada para uplinenya. Dia bahkan menyebut mitra seniornya sebagai “my hero”. Rupanya sudah bertahun-tahun dia mengidap kanker dan selalu terpaksa untuk bolak-balik rumah sakit. Obat dokter yang penuh bahan kimia sudah silih berganti masuk ke tubuhnya dan dia mulai lelah dengan semua itu. Sampai suatu ketika di memilih untuk bergabung di bisnis ini dan mulai mengisi tubuhnya dengan kalsium+cordyceps+spirulina dosis tinggi. 2 minggu kemudian check-up, kondisi tubuhnya normal. Pingsan mendadak yang selalu dialami juga sudah lenyap. Wow…hebat pisaaann!

Tiba waktunya impact, para *4 dipersilahkan berdiri di tempat dan melambaikan tangan (sambil tersenyum)…

Impact *5 dan *6, maju ke panggung kehormatan. *5 dari waktu ke waktu makin banyak aja……

Impact *7, saya dan beberapa rekan maju. Saya memilih untuk berbicara mengenai kesederhanaan sistem. Yang saking sederhananya, hingga baru-baru ini ada seorang tukang ojek yang berhasil dapat BMW dan punya aset yang produktif. Pak Ardi memilih untuk mengedepankan potensi bisnis ini. Pak Yusuf memberi keberanian kepada semua orang untuk mulai beraksi dan meninggalkan semua alasan. Karena alasan tidak berjodoh dengan kesuksesan so kalau mau sukses, tinggalkan alasan. Kalau memilih untuk beralasan, silahkan lupakan sukses. Pak Yasin memberi contoh yang bagus sekali mengenai bagaimana sistem dirancang sehingga siapapun yang menjalankan, apapun inputnya, kalau dijalankan dengan benar maka akan menghasilkan output yang sama. Pak Hasibuan memberi satu cerita jenaka yang menggambarkan betapa satu keputusan bisa merubah banyak hal.

Impact *8 kosong..

Impact Bronze Lion, mentor saya Pak Rizky, maju bersolo. Beliau membuka monolognya dengan flashback ke belakang betapa dia menyesal telah menunda selama 3,5 bulan untuk memutuskan serius menjalankan bisnis ini. Dengan berani beliau mengatakan “seandainya waktu itu saya tidak menunda, saat ini paling tidak saya sudah berdiri sebagai seorang Diamond”. Kemudian beliau bercerita mengenai 3 orang pemburu di Australia.

“Alkisah, ada 3 orang pemburu. Ketiga pemburu ini paling senang berburu jauh di dalam hutan yang belum terjamah manusia. Suatu ketika, ketiganya sepakat untuk menyewa sebuah pesawat kecil untuk mengantarkan mereka jauh ke dalam hutan belantara yang terkenal angker dan banyak binatang buas. Awalnya pilot pesawat tersebut ragu.

“Yakin mau berburu di hutan itu, Pak? Kata orang hutan itu angker, lho. Katanya juga banyak binatang buasnya.”

Si pemburu menjawab,”Gak papa.Kita sudah biasa kok.”

Setiba di tempat yang dituju, salah seorang pemburu berkata kepada pilot pesawat tersebut, “Cukup sampai disini, tinggalkan kami. Kami minta Anda kembali 3 hari lagi untuk menjemput kami.”

Si pilot kaget, “Yakin pak gak papa ditinggal? Nanti kalau terjadi apa-apa gimana?”

Pemburu menjawab,”Gak papa. Kita sudah biasa kok.”

Tiga hari berlalu, pilot pesawat kembali ke hutan tersebut dan benar saja, ketiga pemburu sudah menunggu dengan hewan-hewan hasil buruan mereka. Banyak sekali, ada rusa, kijang, babi hutan, kambing gunung, gajah, buaya, jerapah, badak, kuda nil dll. Si pilot heran setengah mati,”Pak, hewan sebanyak gini gimana bawanya?”

Dijawab oleh si pemburu,”Gampang, kita ikat saja di badan pesawat.”

Pilotnya kaget luar-biasa,”Wah, bahaya pak. Pesawat jadi tidak seimbang dan kelebihan beban. Kita bisa jatuh nanti.”

Dijawab dengan,”Gak papa. Kita sudah biasa kok.”

Akhirnya mereka memutuskan untuk mengikat semua binatang hasil buruan di sekeliling badan pesawat. Di bodi, sayap, moncong, ekor dan seterusnya.

Di tengah perjalanan pulang, tidak menunggu lama, akhirnya pesawat betul-betul jatuh, hancur menghantam tanah karena overload dan tidak seimbang. Dulu, Pak Rizky kadang menutup cerita ini dengan dialog akhir antara pilot dan pemburu setelah mereka berhasil selamat dari kecelakaan pesawat yang sangat parah.

“Tuh kan, saya bilang apa!” protes si pilot kesal. Yang dijawab oleh pemburu dengan,

“Gak papa. Kita sudah biasa kok.”

Pak Rizky menutup cerita ini dengan pesan moral, bahwa begitu banyak orang yang terus-menerus melakukan hal yang sama setiap harinya sambil berharap mendapatkan hasil yang berbeda. Beliau bahkan memberikan sebuah quote dari Albert Einstein, manusia jenius abad 20.

“Mengharapkan hasil yang berbeda dengan tetap melakukan hal yang sama adalah definisi kegilaan dan ketidak-warasan.” – Albert Einstein.

Perbedaan yang paling menentukan antara orang sukses dan *kurang sukses* adalah bahwa orang sukses mampu melihat gambaran besar dari apa yang sedang mereka kerjakan. Hal ini disebut “visi”. The Big Picture yang menjadi finish line bagi orang-orang sukses adalah rekaman jernih dalam benak yang HARUS terwujud. Orang-orang sukses yakin luar-dalam bahwa gambaran dalam benak mereka tersebut adalah sebuah fakta yang tertunda. Sebuah “belief” yang sangat kuat yang kemudian menjadi obat penguat jiwa, melahirkan sebuah indra baru bagi orang-orang sukses. Melengkapi panca-indra yang lazim dimiliki orang rata-rata, orang sukses memiliki  indra yang lain, “impian”.

Impian adalah indra yang jauh lebih kuat dari indra-indra yang lain. Itulah sebabnya seorang Wilma Rudolph yang terlahir prematur, cacat karena polio dan divonis tidak akan bisa berdiri menapakkan kakinya di bumi, mampu menjelma menjadi altet lari wanita paling terkenal dan mampu menyabet 3 medali emas olimpiade. Ketika sains mengatakan, hasil diagnosa membuktikan dan segudang dokter dengan sederet gelar hasil pendidikan panjang bertahun-tahun di dalam tembok-tembok universitas memvonis bahwa Wilma Rudolph tidak akan bisa menggunakan kakinya, Wilma malah memutar-balik semua “fakta” itu dengan menjadi wanita tercepat di dunia.

Juga seorang Roger Bannister sebagai orang pertama yang mampu berlari sejauh 1 mil dalam waktu kurang dari 4 menit. Rekor sebelumnya, 4,01 menit, bertahan selama sembilan tahun. Pada waktu itu semua ahli membuat pernyataan bahwa itulah batas dari kemampuan manusia. Mereka mengatakan, “setelah dianalisa” ternyata struktur otot manusia tidak akan mampu menahan beban yang lebih berat dari itu. Roger Bannister tidak membuang-buang waktu dengan hanya menganalisa. Dengan impian yang kuat, Sir Roger memilih berlari di track dan membuat kecele semua ahli analisa dengan catatan 3,59 menit. Setelah itu, banyak pelari lain yang akhirnya mampu melakukannya juga.

Dan seorang Thomas Alva Edison, seorang yang tuli dan hanya mengecap pendidikan formal selama 3 bulan seumur hidupnya. Thomas kecil didepak dari sekolah pada usia 7 tahun karena dianggap terlalu bodoh dan berbahaya karena “kebodohannya” dapat mempengaruhi anak-anak lainnya. Bertahun-tahun kemudian, anak bodoh yang tuna rungu ini memegang lebih dari 1000 hak paten penemuan yang sangat beguna bagi planet bumi. Thomas Alva Edison tidak menyerah pada penilaian orang lain. Salah satu penemuannya yang paling fenomenal adalah lampu pijar. Penemuan ini didapatkan melalui 9000 kali eksperimen yang berujung pada “kegagalan”. Pada tanggal 18 Oktober 1931, pukul 21.55, seluruh Amerika memadamkan semua lampu listrik untuk mengenang jasa seorang Thomas Alva Edison.

Apa yang membuat orang-orang tersebut mampu menembus semua keterbatasan selain karena impian, kerja keras dan sikap yang positif?

Kita sudah punya impian? Apa yang sudah kita lakukan untuk impian kita? Seberapa besar effort yang kita keluarkan untuk impian-impian kita? Mau gak kita membayar harganya? Mau gak kita berkorban? Seberapa banyak darah dan airmata yang sudah kita keluarkan untuk mewujudkan impian kita?

Sadar atau tidak, jawaban kita terhadap pertanyaan-pertanyaan diatas menentukan siapa kita sebenarnya. Karena punya impian semata tidak cukup.

Christopher Colombus, ketika berhasil menemukan “dunia baru” Amerika, mendapatkan banyak penghargaan dari kerajaan spanyol. Hal ini membuat iri para pelaut lain. Mereka bergosip, yang pada intinya mereka sepakat bahwa Christopher Colombus sebenarnya tidak jago-jago amat dibanding mereka. “Kalau cuma berlayar  gitu sih, kita juga bisa,” demikian mereka berkata. Mereka marah karena mengira kerajaan Spanyol menjadi pilih kasih dan menganak-emaskan Christopher.

Pada saat itulah, Colombus datang. Mendengar kemarahan para pelaut yang lain, Colombus cuma menantang semua orang yang ada di ruangan itu dengan memegang sebutir telur dan mengatakan, ”barang siapa yang mampu membuat telur ini berdiri tegak di atas meja, maka saya akan mengakuinya sebagai pelaut yang lebih baik dan semua penghargaan yang telah diterimanya akan diserahkan kepada sang pemenang.”

Semua pelaut mencoba berbagai cara dan tidak satupun yang berhasil melakukannya. Singkat cerita, ketika semuanya menyerah, Colombus memecahkan sedikit ujung telur tersebut sehingga telur itupun bisa berdiri tegak di atas meja dan tidak terguling.

Melihat ini, semua orang marah. Mereka mengatakan, “kalau begitu sih, kita juga bisa…bla…bla…bla…curang…bla…bla….” dan seterusnya.

Colombus cuma menjawab,”Tapi kalian tidak melakukannya, kan?”

Tindakan selalu mengalahkan teori. Analisa memang menghasilkan keputusan, tapi tindakanlah yang selalu memberikan hasil nyata. Sayangnya, sebagian besar orang justru  memilih untuk bersikap “kritis”, “analis”, “teoritis” tanpa pernah melakukan apa-apa. Gak percaya? Buktinya ada istilah NATO (No Action Talk Only). Sayangnya lagi, para NATO-ers biasanya mempertahankan sikap mental gampang menyerah dan merasa tidak nyaman dengan “kegagalan”. Disenggol dikit goyang, ditowel dikit down. Ujung-ujungnya akhirnya kembali menganalisa. Gak sadar kali bahwa kesuksesan harus dibeli satu paket dengan bonusnya, yaitu kegagalan. Itupun masih harus diperjuangkan, dibayar harganya. Ada harga yang harus dibayar.

Mau tau jadi apa kita 5 tahun ke depan? Silahkan lihat orang yang sudah 5 tahun lebih dulu berada di jalan yang kita lalui sekarang. Kalau menurut kita kondisi orang itu mampu menjawab semua impian terliar kita, silahkan kita lanjutkan perjalanan. Berarti kita berada di jalan yang benar, karena kurang-lebih kita akan menjadi seperti dia saat ini. Tapi kalau tidak, kayaknya sudah saatnya kita putar layar dan berbalik haluan.

Kalau bahkan kita belum punya gambaran ingin menjadi apa dan berada dimana kita 5 tahun ke depan, dan apa impian kita buat kita sendiri, keluarga dan orang-orang sekitar kita, sudah saatnya lampu kuning kita nyalakan.

“Dinosaurus punah karena tidak mau berubah”

5 facts about enemy

Posted on November 10th, 2006 in Uncategorized by andika-ni

1. Our biggest enemy is ourselves;

2. The enemy of a great life is a good life;

3. The enemy of perfection is satisfaction;

4. What makes you uncomfortable is not you enemy. What makes you comfortable, mostly is;

5. Your friend is your classmate, your enemy is your teacher;

A journey to the bottom of my heart

Posted on October 12th, 2006 in Uncategorized by andika-ni

Kemarin saya mengatur waktu dengan seorang sahabat untuk bisa buka puasa bareng. Andika yang traktir, katanya. Ok, jawab saya. Meeting ini memang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari karena saya punya banyak hal rahasia yang selama lebih dari 10 tahun saya simpan, sejak SMA. Sahabat saya ini memang teman SMA yang walaupun kami sempat terpisah kota, tapi tidak pernah melupakan satu sama lain. Saya rasakan, dari dulu sampai sekarang kami memang seperti berkompetisi untuk saling berbuat baik satu sama lain. Yah… pada dasarnya sih saya memang menilai bahwa dia adalah manusia paling baik hati dan tulus yang pernah saya kenal langsung. Saya sendiri cuma mencoba untuk bisa membalas semua itu. Dia adalah wanita yang paling dekat dengan saya sejak SMA. Bahkan ketika SMA saya punya pacar pun, saya masih lebih dekat dengan sahabat saya ini dan lebih sering meluangkan banyak waktu dengan dia dibanding cewek manapun.

Pertemuan ini memang saya rencanakan karena, seperti yang sudah saya bilang, saya punya banyak rahasia pribadi yang tidak pernah saya bagikan ke siapapun juga. Saya bukan tipe curhat. Tapi, kali ini saya merasa perlu untuk memindahkan semua rahasia itu ke "backup device" yang lain, dengan alasan yang cuma saya sendiri yang tahu. Dan bukannya tanpa alasan saya memilih dia untuk itu. Sahabat saya ini memang orang yang paling mengerti saya. Dia orang pertama yang "berani" bilang ke saya bahwa saya ini sebenarnya sensitif. Gayanaji bedeng metal. Dia selalu bilang kalo dia itu selalu berhati-hati kalo ngomong ke saya karena sifat sensitif saya itu. Tapi pada saat yang bersamaan, dia juga tidak segan-segan berkata dan berbuat semaunya di depan saya. And I love her for that.

Akhirnya jadwal kami cocok dan saya jemput dia di rumahnya. Saya disambut ibunya yang baik hati di pintu depan dan langsung dipersilakan masuk. Kami tidak langsung berangkat karena sibuk memilih tempat makan mana yang asik. Sebagai bukti bahwa dia adalah orang yang paling mengerti saya, sejak masih di rumahnya saya sudah dituduh "Andika mau cerita sesuatu, kan?". Ya ampun, ini anak tau aja.

Akhirnya kami berangkat dengan Honda SupraFit seri 3 saya. Kami makan di restoran yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Dia sendiri katanya baru sekali ke situ sebelum ini. Di restoran itu, meja yang terisi cuma 2. Meja kita dan meja orang lain yang sudah lebih dulu datang. Tadinya mau makan nasi goreng, tapi nasinya habis so kami makan mie ala italy. Ajegile, seporsi banyak amat! Tapi karena saya sudah meng-upgrade hardware pencernaan saya ke kapasitas simpan yang lebih besar, porsi saya habis. Sementara dia, yang dari dulu ukurannya cuma segitu-gitu aja, yang lambungnya cuma sebesar tembolok burung parkit, ya gak habis lah. "Sori ya Andika, saya tidak bisa habiskan".

Di restoran, kita malah cerita macam-macam yang gak ada hubungannya sama sekali dengan maksud saya. Kita malah diganggu dengan HP masing-masing yang terus-terusan mengantarkan pesan yang harus dijawab dari dunia antah-berantah di luar sana. Apalagi saya memang seumur-umur gak pernah curhat atau cerita hal-hal yang saya anggap pribadi ke orang lain. Tidak pernah sekalipun. Jadi saya memang tidak terbiasa dengan setting curhat. Akhirnya setelah makan, ngobrol dan bercanda sebentar, kami pulang lagi ke rumahnya.

Di jalan pulang, sebelum sampai di rumahnya, saya akhirnya menyampaikan salah satu dari banyak tema utama yang rencananya mau saya bagikan. Pembicaraan yang sebenarnya baru terjadi setelah kita sampai di rumahnya, sekitar pk. 22 lebih. Di ruang tamunya, saya menyampaikan sebagian dari apa yang selama ini saya simpan sendirian. Hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang saya alami sejak sepuluh tahun yang lalu sampai sekarang, apa yang saya rasakan pada saat itu dan apa yang saya rasakan sekarang tentang peristiwa-peristiwa itu, sedikit demi sedikit terkopi ke sahabat saya yang setia mendengarkan saya, dengan kemampuan yang luar biasa untuk mengerti dan memahami saya.

Kami berulang-kali bernostalgia ke masa lalu. Betapa banyak hal yang tidak terungkapkan di masa lalu, yang akhirnya bisa saya ungkapkan di hadapannya, sahabat terbaik saya.

Jam 00.00 saya pulang. Saya bukannya tidak pernah lebih lama bertamu di rumahnya. Saya pernah sampai pk. 02.00 pagi di rumahnya hanya karena saya tidak rela melepas dia pergi lagi dari Makassar waktu itu. Tapi bulan Ramadhan gini mungkin gak baguslah ya kalo bertamu lebih lama dari itu. Itupun sudah kelamaan, mengingat dia harus berangkat kerja besok paginya.

Intinya, saya pulang dengan masih menyimpan banyak file untuk dikopi ke sahabat saya itu. Dan saya tahu pasti, dia dengan kebesaran jiwa yang berbanding terbalik dengan ukuran badannya, pasti akan bersedia menampungnya. Saya sangat percaya ke dia. Dia adalah orang yang paling pertama, paling sering dan paling banyak merasakan sakit hanya karena bersahabat dengan saya, ketika orang-orang dekat saya tidak bisa menerima kehadirannya, atau karena perilaku saya yang kadang-kadang mungkin membuatnya kecewa. Tapi sampai detik ini, dia masih gagah berdiri di samping saya. Hatinya adalah perpaduan sempurna dari jiwa seorang peri dan seekor raja rimba.

Sebelum berpisah, dia mengatakan ,"Andika, kamu boleh cerita apa saja ke saya. Bahkan, hal-hal yang tidak bisa kamu bagikan ke …*sensor*…."

Dia berjanji untuk meluangkan lagi waktunya beberapa hari ke depan untuk saya.

Di akhir perjumpaan kita malam itu, dia bertanya apakah puisi yang pernah dikirimkannya bertahun-tahun yang lalu untuk saya ketika kami terpisah kota, masih ada. Saya jawab,"Tentumi!"

Seorang Teman

Apakah yang disebut seorang teman ?
Saya akan mengatakannya…
Ia adalah seorang yang memberi kamu keberanian dalam menampilkan diri apa adanya.

Jiwamu bebas telanjang bersamanya, dia meminta kamu agar tidak berbaju dengannya. Hanya jadilah dirimu apa adanya, ia tidak ingin kamu lebih bahagia atau sedih. Jika kamu bersamanya, kamu adalah seorang pidana yang dinyatakan bebas. Kamu tak perlu membatasi diri, kamu dapat berbicara apa yang ada di pikiran. Selama itu adalah kamu yang sebenarnya.

Ia mengerti kontradiksi yang ada ditindaklakumu yang terkadang disalahartikan oleh orang lain. Dengannya kamu dapat membuka segala kesombongan, keirian dan amarah api, kejahatan dan keanehan yang ada dalam benak hatimu. Di dalam keterbukaan itulah segalanya menghilang dan mencair dalam laut kesetiaanya.

Dia mengerti kamu tidak harus berhati-hati. Kamu dapat menyakiti, tidak memperdulikan dan menerima dia. Yang paling membahagiakan adalah kenyataan dimana kamu tetap hadir di sampingnya dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Sebenarnya semua itu tidak penting. Dia suka padamu, dia bagaikan air jernih yang mengalir terus agar jiwamu bersih dan segar.

Dia mengerti kamu, kamu dapat menangis dengannya, berbuat dosa dengannya, tertawa dengannya, berdoa dengannya. Melalui itu semua dan mendalam, dia melihat, mengerti dan mencintaimu.

Seorang teman bertanya apakah yang disebut seorang teman ? 
Hanya ada satu, saya ulangi…
Dia adalah seorang yang memberi kamu keberanian diri apa adanya.

(C. Raymond Beran)

Next Page »