Les Giblin dalam sebuah bukunya "Skill with People" menulis antara lain :
"Orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri, bukan pada orang lain"
dengan kata lain
"orang lain itu sepuluh ribu kali lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada tertarik pada orang lain".
Saya pikir, betul juga. Saya biasanya cepat ngantuk kalo ada orang lain yang bercerita tentang dirinya sendiri terus menerus, berjam-jam. Apalagi kalau yang diceritakan adalah mengenai kehebatannya yang luar-biasa. Sebaliknya, saya akan sangat antusias kalau orang lain bertanya tentang pengalaman hidup, teman-teman dan kesukaan-kesukaan saya.
Kalau begitu, saya tidak punya tempat untuk bercerita tentang diri saya kalau orang lain tidak menanyakannya duluan? Sebab saya merasa, belum saatnya bagi saya membuat sebuah otobiografi karena saya belum jadi artis terkenal, atlet serba-bisa ataupun pemimpin revolusi sebuah negara. Tapi saya tetap akan bercerita tentang diri saya. Yang jelas, saya tidak memaksa orang lain untuk mendengar atau membaca sehingga membuat Anda ngantuk.
Oke, Nama saya Andika. Saya dilahirkan di Jakarta, 30 Juni 1979 sekitar 26 tahun yang lalu. Saya tidak lama tinggal di Jakarta, hanya sampai kelas 3 SD. tapi dalam waktu sesingkat itu, saya berkali-kali pindah sekolah. Lumayan, ngumpul-ngumpulin teman. Saya bukan anak paling pintar di sekolah, cuma beberapa kali ranking 1 di kelas (bukan umum). Orang-tua, guru-guru dan (beberapa) teman bilang, saya sebenarnya…ehm…cerdas. Hanya saja (agak) malas (dikit). Nah, tepat kelas 3 SD, beberapa saat sebelum pindah ke Ujung-Pandang (sekarang Makassar), saya mengalami pengalaman pertama yang tidak terlupakan dalam hidup saya. Saya disunat.
Saya rasa Anda tidak terlalu tertarik dengan detail dan proses penyunatan, jadi untuk itu saya skip saja. Pastinya, seperti anak laki-laki kebanyakan, pengalaman itu membawa trauma tersendiri sehingga hampir bisa dipastikan tidak ada seorang cowokpun yang sudi disunat dua kali, termasuk saya. Kalaupun ada, itu bukan karena kehendaknya sendiri melainkan output yang dihasilkan dari proses penyunatan itu belum menggembirakan. Belum cukup cepak.
Masih di Jakarta, sebenarnya saya mengalami beberapa hal menarik yang sulit untuk dilupakan. Salah satunya ini:
Ketika saya tinggal di daerah Bekasi, suatu sore yang cerah sebelum mandi saya berjalan-jalan keliling kompleks naik sepeda BMX merah kesayangan saya. Kebetulan tidak jauh dari rumah saya, baru saja dibangun sebuah jalanan. Jalan itu begitu menggoda bagi seorang anak kecil penunggang sepeda seperti saya untuk ditelusuri. Aspalnya masih mulus dan hitam. Dan saya, sang petualang cilik, ingin tahu dimana jalanan itu berujung. Maka sore itu saya memacu sepeda, menelusuri jalan baru itu. Saya tidak akan berhenti sebelum menemukan rahasia apa yang tersembunyi di ujung jalan. Itu tekad saya dan tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi saya. Nama saya akan tercatat dalam sejarah dan foto saya akan terpampang di koran-koran sebagai anak pertama yang menemukan rahasia ujung jalan ini!
Sekitar 20 menit kemudian, saya capek. Kayaknya sudah terlalu sore dan saya belum mandi. Mama pasti marah kalau pulang arisan dan saya belum mandi. Kalau saya belum mandi dan Mama pulang arisan, Mama pasti marah. Kalau Mama pulang arisan, pasti marah karena saya belum mandi. Kalau saya belum arisan dan Mama pulang mandi….pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam benak saya. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Nantilah, kalau sudah lebih dewasa baru saya akan kembali dan menaklukkan jalan aspal ini! Tanpa berpikir lebih banyak lagi, saya langsung berbalik tajam 180 derajat. Kemudian…BraAAakkKK!!!
Sebuah sepeda motor yang tadinya searah dengan saya, seketika menabrak saya dari samping. Itu karena saya tiba-tiba berbalik ke arah kanan tanpa melihat ke belakang. Yang sempat saya ingat adalah tubuh saya melayang di atas tanah untuk sepersekian detik. Dan tepat sebelum saya mendarat di aspal, motor itu yang belum kehilangan momentum lajunya menabrak saya sekali lagi. Saya mati dan tidak sempat menulis cerita ini.
Maaf, saya bohong.
Setelah ditabrak (dua kali dalam rentang waktu 3 detik), saya pingsan (belum mati). Pengendara motor (yang berboncengan dengan temannya), menaikkan saya ke atas sepeda motornya. Saya diapit diantara pengendara dan temannya.
Masih di atas motor, saya siuman. Seketika saya shock melihat bagian punggung dari baju si pengendara motor penuh dengan darah. Untuk beberapa saat saya berpikir, ada apa dengan orang ini? Apa mungkin dia mengalami kecelakaan dan terluka sangat parah? Kasihan sekali! Tepat sebelum saya bertanya apa yang terjadi dengannya dan apakah ia baik-baik saja, saya sadar bahwa darah itu adalah darah saya. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyengat sekujur tubuh saya. Namun tampaknya saya masih cukup punya kesadaran untuk menjelaskan di mana rumah saya ketika orang itu bertanya. Sebab, hal berikutnya yang saya ingat, saya diturunkan di depan rumah saya.
Orang serumah geger melihat saya diantar pulang oleh dua orang asing dengan tubuh penuh luka dan semuanya tampak berwarna merah darah. Segera saya dibersihkan dan diperiksa untuk melihat seberapa parah luka saya. Salah satu luka saya yang paling parah waktu itu adalah di bagian pinggul, dimana tampak lubang menganga dan saya bisa melihat bagian dalam tubuh saya dari lubang itu. Sebuah lubang berdiameter sekitar 4 cm. Sebuah lubang, bukan sobekan. Lubang.
Untungnya, Mama belum pulang arisan.
Berikut ini salah satu cerita lain. Masih di Jakarta, saya mulai mengenal dunia musik. Waktu itu setiap akhir pekan, Mama biasanya membawa saya ke rumah tante (saudara Mama). Saya suka sekali pergi ke rumah tante saya itu, sebab anak-anaknya (sepupu-sepupu saya) usianya masih sebaya dengan saya. Terlebih lagi karena mereka punya Nintendo, dan sepupu saya itu punya seri kaset video Star Wars, yang sampai sekarang masih jadi favorit saya.
Nah, sepupu saya yang sulung usianya beberapa tahun di atas saya. Dia sering mengajak saya masuk ke kamarnya untuk nonton video kartun atau sekedar main lompat-lompatan di kasur spring-bednya. Suatu ketika, saya mendapati di bawah televisi di kamar sepupu saya itu, sebuah kaset video VHS yang bertuliskan "Cinderella". Film kartun nih, pikir saya waktu itu. Akhirnya saya meminta sepupu saya untuk memutar "film kartun" itu. Sepupu saya sempat bilang, itu bukan film kartun tapi video klip. Bagi saya tidak ada bedanya, mau film kartun kek, mau video klip kek, pokoknya itu kan Cinderella, si putri bersepatu kaca, iya kan? Setelah saya sedikit merengek, akhirnya sepupu saya mau memutarkan kaset itu. "Lihat saja sendiri, kamu gak bakalan suka. Sudah dibilangin bukan film kartun, kok". Kaset itupun diputar…
Saya bingung. Betapa tidak, setelah video klip itu diputar, tampak beberapa cowok gondrong di layar TV. Ada yang main gitar, ada yang main drum, ada yang nyanyi.
"….So are you tough enough for my love…just close your eyes to the heaven above…i’m comin’ home…i’m comin’ home…"
Keren! Saya suka! Ketika sepupu saya hendak mematikan video tersebut, saya langsung mencegahnya. Ini perkenalan pertama saya dengan musik rock. Sepupu saya heran melihat saya, seorang anak kecil kelas 3 SD duduk terpaku menyaksikan video klip sebuah rock band di layar TV. Tak berapa lama setelah itu saya tahu bahwa band itu bernama "Cinderella", lagu yang saya dengar dan saksikan di video berjudul "Comin’ Home". Dan vokalis gondrong yang membuat saya terkagum-kagum adalah Tom Keifer.
Berikutnya, saya jadi suka memutar kaset-kaset sepupu saya itu di tape dalam kamarnya. Saya mulai mengenal Skid Row…
"…Remember yesterday, walking hand in hand, love letters in the sand - I remember you…"
Dan Europe…
"…He’s a dreamer, and he’s fighting for his life. He’s trying to understand…"
Dan Van Halen…
"…I get up, and nothing gets me down. You got it tough. I’ve seen the toughest around…"
Dan masih banyak lagi. Saya suka semuanya, walaupun tentu saja saya sama sekali belum ngerti lagu-lagunya. Yang pasti, saya jatuh hati dengan musik itu. Saya masih suka lompat-lompat di atas kasur spring-bed sepupu saya, tapi kali ini sambil memegang raket tenis dan memainkannya seperti sedang memainkan gitar. Andika cilik adalah seorang rocker.
Kelas 4 SD, saya pindah ke Makassar. Di kota ini, saya bersekolah di SD Negeri Sudirman I, salah satu SD dari sebuah kompleks SD (Sudirman I-IV) di jantung kota Makassar, tepat di daerah lapangan Karebosi. Awalnya, saya tidak langsung suka dengan kota Makassar. Selain panas, bahasanya masih asing di telinga saya. Tapi lambat-laun, saya mulai beradaptasi dan makin piawai menggunakan imbuhan "mi", "ji", "pi" dan imbuhan-imbuhan lainnya.
Di sini, saya sering main bola. Dari dulu juga saya suka main bola, tapi di Makassar saya lebih sering lagi. Salah satu kejadian menarik yang saya alami adalah ini…
Pada saat itu, kami sering mengadakan pertandingan sepak bola dadakan. Entah itu antar kelas, atau antar sekolah. Tapi tentu saja lebih bergengsi pertandingan antar sekolah. Karena Sudirman I sampai Sudirman IV letaknya berdekatan, hampir setiap hari ada pertandingan sepakbola. Nah, waktu itu falsafah saya dalam bermain bola adalah mencetak gol. Saya sama sekali belum ngerti kenapa harus ada pemain belakang, tengah dan depan. Yang saya tahu, setiap nonton sepakbola di TV, sang pencetak gol selalu dielu-elukan, diselamati oleh rekan-rekannya. Kayaknya keren sekali. Dan unggul jumlah gol dari lawan berarti menang.
Saya suka bingung dengan teman-teman yang senang berdiri di belakang. Saya sendiri lebih senang berdiri dekat gawang lawan karena siapa tahu bisa mencetak gol. Waktu itu memang tidak seorang anakpun yang peduli dengan peraturan offside. Tapi anehnya, saya sangat jarang mencetak gol. Entah kenapa, tapi seingat saya setiap kali bola mengarah ke arah saya, selalu diikuti dengan serombongan anak, baik lawan maupun kawan. Di mana ada bola, pasti banyak anak. Dan akhirnya, yang mencetak gol selalu bukan saya. Mungkin itu sebabnya saya tidak pernah dipanggil kalau ada pertandingan bergengsi antar-sekolah.
Tapi pagi itu lain ceritanya. Ketika sampai di sekolah pagi-pagi, teman-teman dari SD Sudirman II mengajak bertanding main bola. Seperti biasa, saya langsung ambil posisi di depan kelas, siap menonton pertandingan bergengsi itu. Tapi ada yang salah. Kubu kami kekurangan pemain. Beberapa pemain pilar SD Sudirman I belum datang, termasuk sang penyerang andalan, Syafaat. Akhirnya, setelah beberapa musim hanya duduk di bangku cadangan dan tidak pernah menggantikan siapapun, saya bisa bermain di pertandingan yang levelnya lebih tinggi. Pertandingan antar-sekolah!
Serta-merta saya turun ke lapangan, dan ambil posisi tepat di depan gawang lawan. Menunggu bola yang tidak juga datang. Pertandingan berlangsung sengit di lapangan tengah, sebab disitulah bola tertahan. Anak-anak dari kubu kawan dan lawan bertemu di tengah lapangan dan masing-masing berusaha menendang bola ke arah yang berlawanan. Tanpa pola, tanpa strategi dan tanpa aturan. Yang ada hanyalah pertarungan barbar ala anak SD yang masing-masing berusaha menjauhkan bola dari gawangnya. Mungkin itulah sebabnya pertandingan bola anak kecil dengan jumlah pemain tidak terbatas, lebih sering berakhir dengan skor 0-0.
Saking bosannya menunggu bola, perlahan saya berjalan ke arah kerumunan anak yang menendang-nendang bola. Apalagi ada seorang anak (pemain lawan) yang selalu berdiri di dekat saya, tidak pernah ikut mengejar bola. Tampaknya tujuan hidupnya dalam pertandingan ini adalah menjaga saya dan mengamankan daerah pertahanannya dari bola liar. Saya berjalan ke arah bola dan menjauhi anak itu. Seketika ada seorang anak (pemain kawan) yang menendang bola dengan keras sekali. Tiba-tiba, bola melayang ke arah saya menjauhi kerumunan anak dengan kecepatan tinggi.
Saya kaget, tapi tidak lama. Saya melihat bola meluncur deras di atas kepala saya, menuju ke arah saya dan pemain lawan yang menjaga saya. Seketika, sebagai seorang striker berkelas, saya mengambil keputusan dalam sepersekian detik untuk melompat dan menyambut bola itu di udara. Saya melompat tinggi, dan membalik tubuh saya. Kaki di atas, kepala di bawah. Saya menghajar bola itu keras-keras dengan kaki kanan saya. Saya menendang bola itu di udara, dengan gerakan salto akrobatik. Bola meluncur keras dan terarah ke sudut kanan gawang lawan. Di udara saya melihat penjaga gawang lawan tidak mampu berbuat apa-apa. Para pemain lawan dan kawan seketika terpaku melihat aksiku, dengan mulut menganga. Para anak perempuan menjerit tertahan melihat betapa kerennya gayaku. Waktu seakan terhenti. Gol!
Maaf, saya bohong lagi.
Kejadiannya tidak seperti itu. Kembali ke bagian saat bola itu melayang ke arah saya tadi, saya panik. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya bola itu melewati saya. Tapi, tunggu dulu. Kali ini tidak ada gerombolan anak yang mengikuti bola, mereka terlalu jauh. Yang ada hanya saya, penjaga gawang dan anak konyol yang dari tadi mengikuti saya terus. Dan bola itu kini berada ditengah-tengah antara saya dan anak konyol itu. Saya mulai berlari mengejar bola. Di arah yang berlawanan, saya melihat si anak konyol juga berlari menyongsong bola yang menuju ke arahnya. Di belakangnya, si penjaga gawang mulai bersiap-siap.
Mata saya kini cuma tertuju pada bola. Ketika bola sudah sangat dekat, saya melihat sepatu konyol si anak konyol di daerah jarak pandang saya, siap menghalau bola. Tapi saya lebih cepat. Saya berhasil menendang bola itu untuk terus melaju sebelum si anak konyol (dengan sepatu konyolnya) menghalau bola tersebut. Saya berhasil melewatinya dan sekarang tinggal penjaga gawang. Tapi saya tidak melihat penjaga gawangnya. Sekali lagi mata saya cuma tertuju pada bola. Saya terus berlari hingga akhirnya saya berada dekat sekali dengan penjaga gawang. Si penjaga gawang melakukan sliding tackle ke arah kaki saya. Entah mengapa, saya berhasil mengangkat bola dengan ujung sepatu saya dan bola melayang beberapa senti dari kaki si penjaga gawang, masuk ke dalam gawang.
Gol. Dan kali ini saya tidak bohong. Tapi jangan salah, itu semua bukan karena teknik tinggi yang saya miliki, tapi lebih karena faktor keberuntungan dan rasa panik waktu bola itu menuju ke arah saya. Buktinya sampai sekarang, setiap main bola saya masih jarang mencetak gol.
Yang jelas, beberapa menit setelah gol saya itu, bel masuk berbunyi. Kami menang 1-0 berkat gol itu. Lumayan.
Selanjutnya, cerita masa SD ini saya tutup. Nanti akan saya lanjutkan lagi dengan perjalanan saya semasa SMP, SMA, kuliah sampai sekarang. Yang pasti jauh lebih banyak lagi cerita menarik yang bisa saya sampaikan. Thanx.
Wassalam,
Andika a.k.a. Skywalker