Skywalker - My Journey (SMP)

Posted on March 25th, 2005 in Uncategorized by andika-ni

Lulus dari SD Negeri Sudirman I, saya masuk SMP Perguruan Islam Athirah yang letaknya berseberangan dan saling berhadapan dengan SDN Sudirman I, dipisahkan oleh lapangan Karebosi. Saya senang bersekolah di sini, sebab anak SMP-nya sudah pake celana panjang. Nah, menginjak bangku SMP, perjalanan saya mengenal musik semakin berlanjut.

Saya mulai mendengarkan Guns n’ Roses…

"…I got the Shotgun Blues…Shotgun Blues…I don’t know what I did but I know I gotta move…"

Helloween…

"…Dr. Stein grows funny creatures, let them run into the night…"

Aerosmith…

"…Every time that I look in the mirror…all these lines on my face getting clearer…"

Terutama the one and only, Metallica…

"…Come crawling faster…obey your Mater…your lives burned faster…obey your master…"

Dan lidah saya mulai fasih menyanyikan lagu-lagu itu. Saya mulai belajar melafalkan fonem-fonem "bule" supaya saya bisa nyanyi lagu-lagu rock favorit saya. Bukan itu saja, saya mulai mencari arti dari lagu-lagu tersebut.

Pada saat itu, kamus elektronik Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris lagi ngetop. Kalo gak salah, salah satu merk-nya yang terkenal adalah Alfa-Link. Waktu itu saya ingin sekali memiliki kamus elektronik tersebut. Pikir saya, supaya mudah mengartikan lagu-lagu kesukaan saya. Apalagi bentuknya praktis, kayak kalkulator. Tinggal ketik sebuah kata dalam bahasa Inggris…terjemahan dalam bahasa Indonesia langsung muncul di layar. Tapi, apa boleh buat, harganya mahal.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebuah kamus saku kecil (yang biasa, bukan elektronik). Kamus itu saya bawa-bawa kemanapun saya pergi. Setiap ada kata dalam bahasa Inggris yang saya tidak mengerti artinya, langsung saya buka kamus saya. Seringkali saya masih harus mencari kata yang tepat, sehingga kamus itu dibolak-balik dulu. Nah, dalam proses membolak-balik kamus itulah, biasanya secara tidak langsung, saya juga mengingat arti kata bahasa Inggris lainnya, selain yang memang sedang saya cari. Sekali tepuk, dua-tiga lalat terlampaui (maaf, saya bingung mau pake peribahasa yang mana, jadi saya gabung saja).

Kamus itu sekarang tinggal kenangan karena lapuk dimakan usia dan berulangkali basah kuyup kehujanan. Thanks, my first dictionary!

Di SMP jugalah pengalaman pertama saya dapatkan dalam hal tulis-menulis. Guru Bahasa Indonesia saya, Pak Rahman, sangat senang mengumpulkan anak-anak didiknya untuk diikutkan berbagai macam lomba di berbagai tingkat. Beberapa lomba yang pernah saya ikuti adalah Lomba Membuat Sinopsis, Lomba Baca Koran, Lomba Karya Ilmiah dan lain sebagainya. Berbagai macam penghargaan, baik piagam sampai piala sering saya dapatkan. Salah satu prestasi saya yang paling membanggakan adalah juara II lomba Karya Ilmiah se-Sulsel. Juara I-nya dikirim ke Jakarta untuk berlomba di tingkat nasional. Sayang, saya sendiri cuma juara II, jadi gak diajak ke Jakarta juga. Tapi saya tidak terlalu kecewa, mengingat saya lebih cenderung adalah seorang anak metal, bukan akademisi burenk.

Di sekolah juga ada sebuah mading (majalah dinding) bernama "Pragmatis". Mading ini Pak Rahman jugalah yang memprakarsai. Saya sendiri memegang jabatan sebagai Wakil Ketua Redaksi. Beberapa kali saya ikut menyumbangkan tulisan-tulisan yang murni merupakan karya saya sendiri. Tapi, waktu itu sangat jarang saya menulis hal-hal yang serius seperti "Pemanasan Global" atau "Revolusi Kuba" atau "Perubahan Wajah Politik Timur dan Barat" atau "Fluktuasi Pasar Saham" dan sejenisnya. Selain karena saya belum mampu membuat materi seperti itu, terlebih karena saya lebih suka menghibur orang lain. jadinya, tulisan yang sering saya buat adalah fiksi komedi.

Waktu itu salah satu yang saya buat adalah cerita bersambung mengenai perjalanan kesebelasan sepakbola Indonesia menuju Piala Dunia. Dibalut dengan nuansa komedi dan digabungkan dengan sentuhan sastra ala Shakespeare (he..he..), ternyata banyak teman-teman saya yang menyukai karya saya itu. Setiap minggu, teman-teman selalu menunggu lanjutan cerita tim sepakbola PSSI kesayangan mereka. Akhirnya saya sendiri yang repot. Teman-teman sesama pengurus redaksipun (yang notabene duluan baca cerita saya sebelum ditempel di mading), langsung menuntut diceritakan lanjutan ceritanya walaupun belum saya tulis. Lah, saya kan jadi bingung! Lanjutannya gimana ya? Kan belum dipikir! Saya kan nulisnya "tiba masa-tiba akal". Kalo udah mau deadline, ada pulpen, ada kertas, baru dibuat! Mengalir begitu saja.

Di kelas 2 SMP, saya berkenalan dengan tangga nada. Seorang teman saya, Afif, sangat jago main gitar. Saya langsung minta belajar, dan Afif dengan baik hati mengajari saya main gitar. C-D-E-F-G-A-B, semua chord gitar diajarkannya termasuk kres dan mol. Pada saat ujian pelajaran seni musik di kelas, ketika mayoritas anak datang bawa alat musik Pianika, cuma tiga anak yang pake gitar, salah satunya saya. Nilai seni musik saya di rapor 9,5 (Afif dapat 10). Tapi entah mengapa sampai sekarang saya tidak juga mampu bermain gitar seperti Eddie Van Halen atau Slash.

Saya juga mulai belajar main basket. Teman sekelas saya, Mahar, walaupun gendut tapi sangat jago main basket. Lincah dan kalo melompat tinggi sekali. Lagipula waktu itu, anak yang suka main basket keliatan keren. Setiap keluar main, saya pasti ke lapangan basket untuk main dan selepas sekolah sebelum pulang ke rumah, saya selalu menyempatkan diri main basket dulu. Tapi sampai sekarang saya belum bisa slam-dunk.

O iya, di SMP saya bukan anak yang paling nakal atau paling teladan. Saya cuma sesekali jahil. Kalau pulang sekolah, saya sering menempelkan kertas bertuliskan "Mobil Ini Dijual" di kaca belakang mobil-mobil yang parkir di sekitar sekolah. Atau bolos les sore untuk nonton filmnya Steven Chow di rumah salah satu teman saya. Atau coba-coba merokok pada saat keluar main. Atau bahkan jalan-jalan ke SMA Athirah untuk ngecengin cewek SMA yang manis-manis. Tidak lebih nakal dari itu.

Sampai sekarang, hanya ini yang sempat terlintas di ingatan saya tentang masa SMP saya. Kalaupun ada yang teringat lagi di kemudian hari, pasti akan saya tambahkan.

Wassalam,

Andika a.k.a. Skywalker

Skywalker - My Journey (SD)

Posted on March 24th, 2005 in Uncategorized by andika-ni

Les Giblin dalam sebuah bukunya "Skill with People" menulis antara lain :

"Orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri, bukan pada orang lain"

dengan kata lain

"orang lain itu sepuluh ribu kali lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada tertarik pada orang lain".

Saya pikir, betul juga. Saya biasanya cepat ngantuk kalo ada orang lain yang bercerita tentang dirinya sendiri terus menerus, berjam-jam. Apalagi kalau yang diceritakan adalah mengenai  kehebatannya yang luar-biasa. Sebaliknya, saya akan sangat antusias kalau orang lain bertanya tentang pengalaman hidup, teman-teman dan kesukaan-kesukaan saya.

Kalau begitu, saya tidak punya tempat untuk bercerita tentang diri saya kalau orang lain tidak menanyakannya duluan? Sebab saya merasa, belum saatnya bagi saya membuat sebuah otobiografi karena saya belum jadi artis terkenal, atlet serba-bisa ataupun pemimpin revolusi sebuah negara. Tapi saya tetap akan bercerita tentang diri saya. Yang jelas, saya tidak memaksa orang lain untuk mendengar atau membaca sehingga membuat Anda ngantuk.

Oke, Nama saya Andika. Saya dilahirkan di Jakarta, 30 Juni 1979 sekitar 26 tahun yang lalu. Saya tidak lama tinggal di Jakarta, hanya sampai kelas 3 SD. tapi dalam waktu sesingkat itu, saya berkali-kali pindah sekolah. Lumayan, ngumpul-ngumpulin teman. Saya bukan anak paling pintar di sekolah, cuma beberapa kali ranking 1 di kelas (bukan umum). Orang-tua, guru-guru dan (beberapa) teman  bilang, saya sebenarnya…ehm…cerdas. Hanya saja (agak) malas (dikit). Nah, tepat kelas 3 SD, beberapa saat sebelum pindah ke Ujung-Pandang (sekarang Makassar), saya mengalami pengalaman pertama yang tidak terlupakan dalam hidup saya. Saya disunat.

Saya rasa Anda tidak terlalu tertarik dengan detail dan proses penyunatan, jadi untuk itu saya skip saja. Pastinya, seperti anak laki-laki kebanyakan, pengalaman itu membawa trauma tersendiri sehingga hampir bisa dipastikan tidak ada seorang cowokpun yang sudi disunat dua kali, termasuk saya. Kalaupun ada, itu bukan karena kehendaknya sendiri melainkan output yang dihasilkan dari proses penyunatan itu belum menggembirakan. Belum cukup cepak.

Masih di Jakarta, sebenarnya saya mengalami beberapa hal menarik yang sulit untuk dilupakan. Salah satunya ini:

Ketika saya tinggal di daerah Bekasi, suatu sore yang cerah sebelum mandi saya berjalan-jalan keliling kompleks naik sepeda BMX merah kesayangan saya. Kebetulan tidak jauh dari rumah saya, baru saja dibangun sebuah jalanan. Jalan itu begitu menggoda bagi seorang anak kecil penunggang sepeda seperti saya untuk ditelusuri. Aspalnya masih mulus dan hitam. Dan saya, sang petualang cilik, ingin tahu dimana jalanan itu berujung. Maka sore itu saya memacu sepeda, menelusuri jalan baru itu. Saya tidak akan berhenti sebelum menemukan rahasia apa yang tersembunyi di ujung jalan. Itu tekad saya dan tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi saya. Nama saya akan tercatat dalam sejarah dan foto saya akan terpampang di koran-koran sebagai anak pertama yang menemukan rahasia ujung jalan ini!

Sekitar 20 menit kemudian, saya capek. Kayaknya sudah terlalu sore dan saya belum mandi. Mama pasti marah kalau pulang arisan dan saya belum mandi. Kalau saya belum mandi dan Mama pulang arisan, Mama pasti marah. Kalau Mama pulang arisan, pasti marah karena saya belum mandi. Kalau saya belum arisan dan Mama pulang mandi….pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam benak saya. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Nantilah, kalau sudah lebih dewasa baru saya akan kembali dan menaklukkan jalan aspal ini! Tanpa berpikir lebih banyak lagi, saya langsung berbalik tajam 180 derajat. Kemudian…BraAAakkKK!!!

Sebuah sepeda motor yang tadinya searah dengan saya, seketika menabrak saya dari samping. Itu karena saya tiba-tiba berbalik ke arah kanan tanpa melihat ke belakang. Yang sempat saya ingat adalah tubuh saya melayang di atas tanah untuk sepersekian detik. Dan tepat sebelum saya mendarat di aspal, motor itu yang belum kehilangan momentum lajunya menabrak saya sekali lagi. Saya mati dan tidak sempat menulis cerita ini.

Maaf, saya bohong.

Setelah ditabrak (dua kali dalam rentang waktu 3 detik), saya pingsan (belum mati). Pengendara motor (yang berboncengan dengan temannya), menaikkan saya ke atas sepeda motornya. Saya diapit diantara pengendara dan temannya.

Masih di atas motor, saya siuman. Seketika saya shock melihat bagian punggung dari baju si pengendara motor penuh dengan darah. Untuk beberapa saat saya berpikir, ada apa dengan orang ini? Apa mungkin dia mengalami kecelakaan dan terluka sangat parah? Kasihan sekali! Tepat sebelum saya bertanya apa yang terjadi dengannya dan apakah ia baik-baik saja, saya sadar bahwa darah itu adalah darah saya. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyengat sekujur tubuh saya. Namun tampaknya saya masih cukup punya kesadaran untuk menjelaskan di mana rumah saya ketika orang itu bertanya. Sebab, hal berikutnya yang saya ingat, saya diturunkan di depan rumah saya.

Orang serumah geger melihat saya diantar pulang oleh dua orang asing dengan tubuh penuh luka dan semuanya tampak berwarna merah darah. Segera saya dibersihkan dan diperiksa untuk melihat seberapa parah luka saya. Salah satu luka saya yang paling parah waktu itu adalah di bagian pinggul, dimana tampak lubang menganga dan saya bisa melihat bagian dalam tubuh saya dari lubang itu. Sebuah lubang berdiameter sekitar 4 cm. Sebuah lubang, bukan sobekan. Lubang.

Untungnya, Mama belum pulang arisan.

Berikut ini salah satu cerita lain. Masih di Jakarta, saya mulai mengenal dunia musik. Waktu itu setiap akhir pekan, Mama biasanya membawa saya ke rumah tante (saudara Mama). Saya suka sekali pergi ke rumah tante saya itu, sebab anak-anaknya (sepupu-sepupu saya) usianya masih sebaya dengan saya. Terlebih lagi karena mereka punya Nintendo, dan sepupu saya itu punya seri kaset video Star Wars, yang sampai sekarang masih jadi favorit saya.

Nah, sepupu saya yang sulung usianya beberapa tahun di atas saya. Dia sering mengajak saya masuk ke kamarnya untuk nonton video kartun atau sekedar main lompat-lompatan di kasur spring-bednya. Suatu ketika, saya mendapati di bawah televisi di kamar sepupu saya itu, sebuah kaset video VHS yang bertuliskan "Cinderella". Film kartun nih, pikir saya waktu itu. Akhirnya saya meminta sepupu saya untuk memutar "film kartun" itu. Sepupu saya sempat bilang, itu bukan film kartun tapi video klip. Bagi saya tidak ada bedanya, mau film kartun kek, mau video klip kek, pokoknya itu kan Cinderella, si putri bersepatu kaca, iya kan? Setelah saya sedikit merengek, akhirnya sepupu saya mau memutarkan kaset itu. "Lihat saja sendiri, kamu gak bakalan suka. Sudah dibilangin bukan film kartun, kok". Kaset itupun diputar…

Saya bingung. Betapa tidak, setelah video klip itu diputar, tampak beberapa cowok gondrong di layar TV. Ada yang main gitar, ada yang main drum, ada yang nyanyi.

"….So are you tough enough for my love…just close your eyes to the heaven above…i’m comin’ home…i’m comin’ home…"

Keren! Saya suka! Ketika sepupu saya hendak mematikan video tersebut, saya langsung mencegahnya. Ini perkenalan pertama saya dengan musik rock. Sepupu saya heran melihat saya, seorang anak kecil kelas 3 SD duduk terpaku menyaksikan video klip sebuah rock band di layar TV. Tak berapa lama setelah itu saya tahu bahwa band itu bernama "Cinderella", lagu yang saya dengar dan saksikan di video berjudul "Comin’ Home". Dan vokalis gondrong yang membuat saya terkagum-kagum adalah Tom Keifer.

Berikutnya, saya jadi suka memutar kaset-kaset sepupu saya itu di tape dalam kamarnya. Saya mulai mengenal Skid Row

"…Remember yesterday, walking hand in hand, love letters in the sand - I remember you…"

Dan Europe

"…He’s a dreamer, and he’s fighting for his life. He’s trying to understand…"

Dan Van Halen

"…I get up, and nothing gets me down. You got it tough. I’ve seen the toughest around…"

Dan masih banyak lagi. Saya suka semuanya, walaupun tentu saja saya sama sekali belum ngerti lagu-lagunya. Yang pasti, saya jatuh hati dengan musik itu. Saya masih suka lompat-lompat di atas kasur spring-bed sepupu saya, tapi kali ini sambil memegang raket tenis dan memainkannya seperti sedang memainkan gitar. Andika cilik adalah seorang rocker.

Kelas 4 SD, saya pindah ke Makassar. Di kota ini, saya bersekolah di SD Negeri Sudirman I, salah satu SD dari sebuah kompleks SD (Sudirman I-IV) di jantung kota Makassar, tepat di daerah lapangan Karebosi. Awalnya, saya tidak langsung suka dengan kota Makassar. Selain panas, bahasanya masih asing di telinga saya. Tapi lambat-laun, saya mulai beradaptasi dan makin piawai menggunakan imbuhan "mi", "ji", "pi" dan imbuhan-imbuhan lainnya.

Di sini, saya sering main bola. Dari dulu juga saya suka main bola, tapi di Makassar saya lebih sering lagi. Salah satu kejadian menarik yang saya alami adalah ini…

Pada saat itu, kami sering mengadakan pertandingan sepak bola dadakan. Entah itu antar kelas, atau antar sekolah. Tapi tentu saja lebih bergengsi pertandingan antar sekolah. Karena Sudirman I sampai Sudirman IV letaknya berdekatan, hampir setiap hari ada pertandingan sepakbola. Nah, waktu itu falsafah saya dalam bermain bola adalah mencetak gol. Saya sama sekali belum ngerti kenapa harus ada pemain belakang, tengah dan depan. Yang saya tahu, setiap nonton sepakbola di TV, sang pencetak gol selalu dielu-elukan, diselamati oleh rekan-rekannya. Kayaknya keren sekali. Dan unggul jumlah gol dari lawan berarti menang.

Saya suka bingung dengan teman-teman yang senang berdiri di belakang. Saya sendiri lebih senang berdiri dekat gawang lawan karena siapa tahu bisa mencetak gol. Waktu itu memang tidak seorang anakpun yang peduli dengan peraturan offside. Tapi anehnya, saya sangat jarang mencetak gol. Entah kenapa, tapi seingat saya setiap kali bola mengarah ke arah saya, selalu diikuti dengan serombongan anak, baik lawan maupun kawan. Di mana ada bola, pasti banyak anak. Dan akhirnya, yang mencetak gol selalu bukan saya. Mungkin itu sebabnya saya tidak pernah dipanggil kalau ada pertandingan bergengsi antar-sekolah.

Tapi pagi itu lain ceritanya. Ketika sampai di sekolah pagi-pagi, teman-teman dari SD Sudirman II mengajak bertanding main bola. Seperti biasa, saya langsung ambil posisi di depan kelas, siap menonton pertandingan bergengsi itu. Tapi ada yang salah. Kubu kami kekurangan pemain. Beberapa pemain pilar SD Sudirman I belum datang, termasuk sang penyerang andalan, Syafaat. Akhirnya, setelah beberapa musim hanya duduk di bangku cadangan dan tidak pernah menggantikan siapapun, saya bisa bermain di pertandingan yang levelnya lebih tinggi. Pertandingan antar-sekolah!

Serta-merta saya turun ke lapangan, dan ambil posisi tepat di depan gawang lawan. Menunggu bola yang tidak juga datang. Pertandingan berlangsung sengit di lapangan tengah, sebab disitulah bola tertahan. Anak-anak dari kubu kawan dan lawan bertemu di tengah lapangan dan masing-masing berusaha menendang bola ke arah yang berlawanan. Tanpa pola, tanpa strategi dan tanpa aturan. Yang ada hanyalah pertarungan barbar ala anak SD yang masing-masing berusaha menjauhkan bola dari gawangnya. Mungkin itulah sebabnya pertandingan bola anak kecil dengan jumlah pemain tidak terbatas, lebih sering berakhir dengan skor 0-0.

Saking bosannya menunggu bola, perlahan saya berjalan ke arah kerumunan anak yang menendang-nendang bola. Apalagi ada seorang anak (pemain lawan) yang selalu berdiri di dekat saya, tidak pernah ikut mengejar bola. Tampaknya tujuan hidupnya dalam pertandingan ini adalah menjaga saya dan mengamankan daerah pertahanannya dari bola liar. Saya berjalan ke arah bola dan menjauhi anak itu. Seketika ada seorang anak (pemain kawan) yang menendang bola dengan keras sekali. Tiba-tiba, bola melayang ke arah saya menjauhi kerumunan anak dengan kecepatan tinggi.

Saya kaget, tapi tidak lama. Saya melihat bola meluncur deras di atas kepala saya, menuju ke arah saya dan pemain lawan yang menjaga saya. Seketika, sebagai seorang striker berkelas, saya mengambil keputusan dalam sepersekian detik untuk melompat dan menyambut bola itu di udara. Saya melompat tinggi, dan membalik tubuh saya. Kaki di atas, kepala di bawah. Saya menghajar bola itu keras-keras dengan kaki kanan saya. Saya menendang bola itu di udara, dengan gerakan salto akrobatik. Bola meluncur keras dan terarah ke sudut kanan gawang lawan. Di udara saya melihat penjaga gawang lawan tidak mampu berbuat apa-apa. Para pemain lawan dan kawan seketika terpaku melihat aksiku, dengan mulut menganga. Para anak perempuan menjerit tertahan melihat betapa kerennya gayaku. Waktu seakan terhenti. Gol!

Maaf, saya bohong lagi.

Kejadiannya tidak seperti itu. Kembali ke bagian saat bola itu melayang ke arah saya tadi, saya panik. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya bola itu melewati saya. Tapi, tunggu dulu. Kali ini tidak ada gerombolan anak yang mengikuti bola, mereka terlalu jauh. Yang ada hanya saya, penjaga gawang dan anak konyol yang dari tadi mengikuti saya terus. Dan bola itu kini berada ditengah-tengah antara saya dan anak konyol itu. Saya mulai berlari mengejar bola. Di arah yang berlawanan, saya melihat si anak konyol juga berlari menyongsong bola yang menuju ke arahnya. Di belakangnya, si penjaga gawang mulai bersiap-siap.

Mata saya kini cuma tertuju pada bola. Ketika bola sudah sangat dekat, saya melihat sepatu konyol si anak konyol di daerah jarak pandang saya, siap menghalau bola. Tapi saya lebih cepat. Saya berhasil menendang bola itu untuk terus melaju sebelum si anak konyol (dengan sepatu konyolnya) menghalau bola tersebut. Saya berhasil melewatinya dan sekarang tinggal penjaga gawang. Tapi saya tidak melihat penjaga gawangnya. Sekali lagi mata saya cuma tertuju pada bola. Saya terus berlari hingga akhirnya saya berada dekat sekali dengan penjaga gawang. Si penjaga gawang melakukan sliding tackle ke arah kaki saya. Entah mengapa, saya berhasil mengangkat bola dengan ujung sepatu saya dan bola melayang beberapa senti dari kaki si penjaga gawang, masuk ke dalam gawang.

Gol. Dan kali ini saya tidak bohong. Tapi jangan salah, itu semua bukan karena teknik tinggi yang saya miliki, tapi lebih karena faktor keberuntungan dan rasa panik waktu bola itu menuju ke arah saya. Buktinya sampai sekarang, setiap main bola saya masih jarang mencetak gol.

Yang jelas, beberapa menit setelah gol saya itu, bel masuk berbunyi. Kami menang 1-0 berkat gol itu. Lumayan.

Selanjutnya, cerita masa SD ini saya tutup. Nanti akan saya lanjutkan lagi dengan perjalanan saya semasa SMP, SMA, kuliah sampai sekarang. Yang pasti jauh lebih banyak lagi cerita menarik yang bisa saya sampaikan. Thanx.

Wassalam,

Andika a.k.a. Skywalker

Elang dan Ayam

Posted on March 23rd, 2005 in Uncategorized by andika-ni

Saya akan menceritakan sebuah kisah tentang elang dan ayam :

Suatu ketika di sebuah peternakan ayam, seekor (calon) induk ayam sedang mengerami beberapa butir telur. Entah mengapa, salah satu dari telur yang dierami adalah telur burung elang. Selebihnya adalah telur ayam biasa. Sang ayam tidak ambil pusing, nalurinya sebagai induk yang baik hati tidak membuatnya pilih-kasih melihat satu dari telur-telurnya tampak beda. Yang penting bentuknya lonjong, ada cangkangnya dan muat di bawah keteknya, si induk cuek ayam (bukan cuek bebek) saja.

Alkisah, akhirnya kesemua telur itu menetas. Hasilnya adalah 5 ekor anak ayam yang lucu-lucu dan seekor anak burung elang yang juga lucu. Semuanya lucu karena masih orok. Kebetulan di peternakan itu tidak terdapat cermin sehingga si elang kecil tidak melihat dirinya berbeda dengan saudara se-pengeramannya. Sang induk, tanpa buang-buang waktu, langsung mengajari anak-anaknya bagaimana mencari nafkah dengan baik dan benar. Sebagaimana yang dulu diajarkan nenek ayam.

Dipimpin sang induk ayam, keluarga kecil yang bahagia itu setiap harinya mengais-ngais tanah, mencari cacing atau apapun yang sesuai selera lidah mereka. Kadangkala mereka cukup beruntung mendapatkan sisa-sisa makanan dari binatang yang lebih besar. Pada saat itulah mereka bisa lebih kenyang dari biasanya. Sang elang kecil tentu saja hidup sebagai ayam yang setiap harinya ikut bersama induk dan saudara-saudara ayamnya mengais-ngais tanah dan mencari sisa makanan.

Ketika sudah remaja, sang pemuda elang tetap hidup sebagai ayam. Kesana-kemari menundukkan kepala melihat kalau-kalau ada sisa makanan tersembunyi di balik bebatuan. Mengais-ngais tanah untuk melihat kalau-kalau ada cacing gemuk yang bisa dijadikan menu makan siang. Pemuda elang tidak pernah belajar terbang, berburu atau sekedar mengeluarkan jeritan melengking yang menandakan superioritas elang di angkasa dan membuat bulu kuduk hewan lain merinding. Sang elang hidup sebagai ayam.

Ketika malam tiba, di sarang mereka yang nyaman, sang induk ayam selalu memberikan nasehat kepada anak-anaknya sebagai bekal untuk menjalani kehidupan kalau sudah dewasa nantinya. Sebelum tidur, sang induk tak henti-hentinya mengulangi nasehat yang sama untuk selalu berhati-hati dalam hidup ini.

Jangan pernah merasa tidak puas dengan makanan yang didapat setiap harinya, sebab masih cukup banyak cacing tersedia di sekitar peternakan. Masih akan ada hewan yang sudi membagi sisa makanannya.

Jangan pergi terlalu jauh dari rumah, sebab kita tidak tahu apa yang ada di luar sana. Kita tidak perlu tahu, sebab hidup di rumah pun kadangkala tidak aman. Apalagi di luar.

Jangan mempertanyakan kenapa kita punya sayap tapi tidak bisa terbang. Nenek-moyang bangsa kita sudah lama sekali memutuskan untuk tidak usah terbang lagi. Angkasa adalah tempat yang kejam dan penuh dengan persaingan. Belum lagi resiko jatuh, terjerat kabel listrik atau ditabrak pesawat. Bahaya. Di darat pun kita masih bisa hidup, iya kan?

Jangan…

Jangan…

Anak-anak pun tertidur lelap dengan membawa semua nasehat itu ke alam mimpi dan bawah sadarnya. Sungguh nyaman tidur ditemani ibu yang tidak menuntut banyak dari anak-anaknya. Anak-anak pun merasa bahagia karena merasa tidak memiliki banyak kewajiban dalam hidup ini. Hidup ini indah, jangan dibuat susah…zzz….zzz…zzz…

Pada suatu siang yang cerah. Sang induk kembali memimpin anak-anak remajanya mencari makanan di halaman peternakan. Berjalan menunduk, mengais-ngais tanah mencari cacing dan sisa-sisa makanan. Tiba-tiba keluarga kecil yang bahagia itu dikejutkan oleh suara siulan bernada tinggi. Melengking, menggema ke seluruh pelosok lembah dimana peternakan itu berada. Suara itu sungguh menggetarkan, mendirikan bulu roma. Tanpa mencari sumber suara, binatang-binatang di peternakan itu berlarian, berloncatan mencari tempat persembunyian. Tunggang-langgang demi mendengar sebuah suara yang begitu gagah mempesona.

Anak-anak ayam (dan anak elang) hanya bisa terpaku di tempat. Baru kali ini mereka mendengar suara yang begitu hebat efeknya. Bulu roma mereka seketika berdiri tegak. Syaraf di sekujur tubuh lumpuh, mereka terpaku di tempat masing-masing.

Sekali lagi suara itu terdengar. Siulan melengking tinggi, kali ini lebih panjang dan lebih dekat. Lebih dahsyat.

Seketika anak-anak ayam menangis. Entah mengapa, tapi suara itu membuat mereka menangis. Dari dalam kandang ayam yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berdiri, sayup-sayup terdengar induk mereka memanggil-manggil dengan suara panik. Rupanya sang induk sudah sejak tadi lari bersembunyi. Dikiranya anak-anaknya ikut bersamanya. Dia lupa bahwa anak-anaknya belum pernah sekalipun mengenal suara dan wujud hewan yang mereka dengar siang itu. Sang induk terus berteriak memanggil.

Perlahan kesadaran mulai menghinggapi anak-anak ayam (dan anak elang). Sayup-sayup mereka  mendengar panggilan sang induk. Seketika mereka berlarian menuju kandang. Baru kali ini mereka memaksa otot-otot kaki mereka bekerja begitu keras. Tanpa sadar mereka mengepakkan sayap dan saat itu juga mereka merasakan sensasi yang lain. Tubuh mereka lebih ringan dan tanpa sadar mereka melayang di atas tanah, melaju lebih cepat ke arah kandang. Selamatlah mereka.

Di bawah ketek induknya, anak-anak ayam (dan anak elang) mengintip ke luar, ke arah langit. Mereka melihat seekor burung yang sangat besar dan gagah sedang melayang di angkasa. Menikmati angin termal siang hari, burung itu mengembangkan sayap perkasanya dan membiarkan tubuhnya melayang mengikuti angin. Tampaknya si perkasa tidak sedang mencari makan. Ia hanya ingin menikmati suasana siang itu, sebab dia tahu, kapanpun dirinya lapar, dia selalu bisa makan.

Anak-anak terus melihat ke atas, mengagumi burung itu. Tampak begitu hebat, begitu gagahnya. Begitu bebas, begitu berkuasa. Sang penguasa langit, disegani sesama penghuni angkasa dan dihormati penghuni daratan. Sangat mengerikan sekaligus sangat mempesona. Sangat anggun sekaligus sangat perkasa. Sangat cantik dan gagah. Sangat…..hidup.

Sebelum kekaguman anak-anak semakin menjadi-jadi, sang induk ayam mulai menjelaskan. Bahwa mereka sedang menyaksikan seekor hewan bernama "Elang", dikenal sebagai spesies pemangsa. Para pendongeng dari dulu banyak menceritakan kisah tentang elang. Ia adalah legenda. Hidupnya di puncak tebing yang tinggi sehingga dapat melihat luasnya dunia. Dapat menunggangi angin sehingga pergi kemanapun ia suka. Dapat bergerak lebih cepat dari anak panah, lebih senyap dari gelapnya malam. Dari angkasa, ia dapat melihat seekor cacing yang bersembunyi di balik rumput ilalang. Seekor makhluk sempurna.

Tapi, tidak! Jangan bermimpi untuk menjadi seekor elang, anak-anakku. Itulah dia dan inilah kita, ayam. Jangan pernah belajar menggunakan sayap kalian untuk terbang seperti elang, nenek moyang kita sejak lama sudah tidak menggunakannya untuk terbang. Gunakan sayap kalian hanya untuk lari dari bahaya, seperti yang tadi kalian lakukan. Gunakan cakar kalian hanya untuk mengais tanah, mencari cacing. Hidup kita cukup seperti itu. Dengan cara itulah kita masih bisa hidup sampai saat ini.

Sang induk terus menasehati anak-anaknya sampai akhirnya matahari terbenam. Ketika anak-anak ayam terlelap dan bermimpi tentang elang, si anak elang tetap terjaga. Ia menangis. Ada sesuatu dalam dirinya yang terus mengusiknya, entah apa. Ia terus membayangkan dirinya sebagai "elang" bukan "ayam". Seandainya ia adalah seekor "elang", banyak hal yang ingin dilakukannya. Dia terus mempertanyakan mengapa dirinya terlahir sebagai "ayam" bukannya "elang". Ia ingin menjadi "elang" yang perkasa. Iapun tertidur dalam tangisnya.

Keesokan hari dan hari-hari berikutnya, rutinitas tetap berjalan seperti biasa. Sang induk ayam dan anak-anaknya kembali mencari makan, mengais-ngais tanah. Sesekali jika sang elang perkasa muncul, mereka berlarian ketakutan mencari tempat persembunyian. Begitu seterusnya.

Ketika anak-anak ayam tumbuh dewasa, mereka mengikuti cara hidup sang induk. Anak elang yang kini sudah dewasa juga mengikuti jejak ibunya. Pagi-pagi keluar mencari makan di sekitar peternakan, takut untuk pergi terlalu jauh. Mengais-ngais tanah mencari cacing dan sisa-sisa makanan. Si elang tidak pernah mengepakkan sayap dan terbang tinggi di angkasa. Terkadang kerinduannya terhadap sosok burung elang sejati muncul, tapi segera ditekannya hasrat itu. Ia sadar, ia hanyalah seekor ayam, tidak mungkin menjadi elang.

Elang itu terlahir sebagai ayam, hidup sebagai ayam dan mati sebagai ayam.

Pesan saya : Let us die as an Eagle, not as a Chicken.

Wassalam,

Andika a.k.a. Skywalker

Losers Get Nothing

Posted on March 23rd, 2005 in Uncategorized by andika-ni

23.00, habis dinner

Ehmm..tes…tes…tes…let’s go!

Kita semua sering mendengar nasehat seperti ini :

Sekolah, dapat nilai bagus, cepat selesai dan segera cari kerja.

Atau yang seperti ini :

Sekolah, dapat nilai bagus, cepat selesai, sekolah lagi, dapat nilai bagus, cepat selesai, sekolah lebih tinggi, dapat nilai bagus, cepat selesai kemudian segera cari kerja.

Bagaimanapun bunyinya, atau dengan bahasa apapun nasehat tersebut diucapkan, intinya tetap seperti di atas. Saya akan mencoba mengurai nasehat tersebut. Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak sedang berusaha menyerang siapapun. Saya cuma mengungkapkan paradigma yang tersembunyi dibalik rutinitas yang kita lakukan dan betapa era informasi bukan sekedar slogan "era informasi", tetapi sesuatu yang harus kita sikapi sebagai perubahan pola pikir dari era sebelumnya (era industri). Oke, saya mulai.

Menurut saya, nasehat di atas adalah nasehat yang bagus dan sangat populer. Nasehat itu harus kita pegang baik-baik, kita jadikan pedoman dan bahkan tujuan hidup kita. JIKA SAJA, sekarang ini adalah 20-40 tahun yang lalu, yaitu pada saat orang-tua kita masih muda seperti kita, di ERA INDUSTRI. Saking populernya, nasehat itulah yang akhirnya turun ke kita (tapi apa iya masih relevan dengan era di mana kita berada?).

Betapa tidak, waktu itu (20-40 tahun yang lalu) era industri sedang berada di puncak. Tidak peduli di negara maju, berkembang atau negara miskin, orang berlomba-lomba mencari pendidikan terbaik dan termahal. Setelah (secepatnya) menyelesaikan sekolah, segera antri di telapak kaki para industrialis untuk dapat mencicipi sekitar 10-20 tahun masa gemilang karirnya. Yang tidak berpendidikan? Maaf, tapi dunia memang kejam! Industri banyak sekali membutuhkan tenaga ahli ber-IPK tinggi yang notabene bisa dicari di tumpukan surat lamaran para lulusan universitas di meja kerja para industrialis. Mereka yang tidak berpendidikan, tidak punya apa-apa untuk dijadikan surat lamaran.

Alhasil, itulah gunanya sekolah. Supaya surat lamaran (dan berkas yang kita lampirkan) bisa tampak bagus dan mempesona dimata para direktur (sang direktur tentu saja melewati tahapan yang sama persis dengan sang pelamar).

Nah, kenapa pola seperti itu (sekolah, dapat nilai bagus, cepat selesai, segera cari kerja) bisa sangat bagus dan populer di era industri? Sebab (waktu itu) hampir semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Seorang akuntan, jadi akuntan. Seorang sarjana kimia, ngurusin kimia. seorang insinyur, jadi insinyur. Bagaimana dengan lulusan bidang ilmu yang lain? Hampir pasti masing-masing akan ngurusin bidang ilmunya sendiri-sendiri. Semua mendapat apa yang diinginkan. Sang sarjana bisa kerja sesuai bidangnya, para pemilik industri mendapatkan tenaga ahlinya. klop!

Tapi itu "era industri". Yang sekarang cuma tinggal ampasnya. Era yang sudah lewat, tapi masih keliatan kelingking kakinya. Kalo pola pikir dan gaya hidup kita masih seperti nasehat di atas, tidak ubahnya kita hanya sekedar menikmati kelingking kaki, padahal seluruh tubuh telanjang "era informasi" nan elok ada di depan mata. Kok nda keliatan? Mau liat atau tidak, itu pilihan kita. Tidak ada yang akan memperlihatkannya kepada kita, kitalah yang memilih untuk mau melihatnya atau tidak.

Mau bukti bahwa era industri sudah lewat? Mau bukti bahwa nasehat di atas sudah basi dan busuk? Saya akan berikan bukti, dan saya mau lihat apakah ada yang bisa membantah. Oke, saya akan bertanya, silahkan jawab sendiri. Ini buktinya.

Berapa orang yang kita kenal (selain kita sendiri tentunya) yang setelah selesai sekolah, sibuk membuat puluhan bahkan ratusan surat lamaran (yang lampirannya sangat persuasif) dan mengirimkannya ke berbagai perusahaan atau instansi pemerintah yang berbeda-beda? Tidak peduli posisi yang ditawarkan tidak sesuai dengan bidang ilmu kita? Toh itulah gunanya sekolah bukan? Tidak peduli di jurusan apa kita menuntut ilmu, yang penting kita punya "sesuatu" untuk bisa dikirimkan ke perusahaan dan kita tidak peduli lowongan apapun yang ditawarkan perusahaan itu. Pokoknya dapat kerja! Toh UUD (Ujung-Ujungnya Duit)!

Selain kita sendiri, berapa orang lain yang kita kenal? Coba hitung. Hampir semua? Atau bahkan semua? Apakah semua orang mendapatkan apa yang diinginkan?

AKhirnya, jadilah seorang sarjana perikanan ngurusin kredit di bank (ini cuma contoh, bukan menunjuk pada seseorang yang spesifik).

Oke..oke..beberapa dari kita akhirnya bekerja sesuai bidang ilmu kita. Syukurlah! Tapi itu sama sekali tidak merubah pola yang saya gambarkan di atas. Jujur saja, sebelum akhirnya diterima kerja di perusahaan yang "sesuai" itu, berapa banyak surat lamaran yang kita layangkan ke instansi lainnya? Yang informasi lowongannya kita dapat dari sumber yang berbeda-beda? Dari teman? Koran? Internet? dll? Dan lowongan yang ditawarkan tidak sesuai dengan bidang ilmu kita? Ujung-Ujungnya Duit kan?

Nah, kalau keadaan sudah mendesak, pedulikah kita bahwa kita adalah seorang sarjana teknik ber-IPK setinggi bintang di surga, mendapatkan informasi lowongan kerja dari tetangganya teman kita yang iparnya bersepupu jauh dengan seseorang yang pernah satu pesawat dengan seorang manajer sebuah pabrik kondom terkemuka, yang "kalo tidak salah dengar" sang manajer "sempat bilang" bahwa "kemungkinan" perusahaannya membutuhkan tenaga marketing yang tugasnya mempromosikan kondom berkualitas tinggi ke pedalaman Irian yang disinyalir sebagai populasi "terjangkit HIV" terbanyak di Indonesia. Tapi gajinya gede, sekitar 10-15 jutaan sebulan (belum terhitung bonus dan lembur) dan masih bisa naik kalau kita bersedia masuk sampai ke pelosok yang banyak suku kanibalnya.

Oke..oke..terlalu ekstrim maybe. Andika kelewatan neh! Tapi gak pa pa, kita orang pintar semua kok dan pastinya kita sudah bisa "get the point".

Nasehat ini : "Sekolah, dapat nilai bagus, cepat selesai dan segera cari kerja" sudah basi. Sudah lewat. Itu adalah nasehat warisan jaman dahulu kala yang tidak relevan lagi sekarang ini. Satu-satunya alasan kenapa banyak dari kita yang masih memegang nasehat itu adalah karena itulah yang diajarkan di sekolah (yang kurikulumnya merupakan warisan era industri) dan itulah yang diturunkan dari para orang-tua kita. Don’t get me wrong, saya yakin orang-tua kita hanya menginginkan yang terbaik buat anaknya. Merekalah yang berdoa untuk kesuksesan kita. But excuse me, yang terbaik di jaman mereka bukan lagi yang terbaik di jaman kita.

Saya tidak tahu di era informasi ini apa ada istilah untuk orang yang bersekolah tinggi-tinggi, menghabiskan banyak biaya untuk dapat titel, dan ujung-ujungnya bekerja untuk orang lain (yang belum tentu sekolahnya lebih tinggi). Parahnya lagi, dia terjebak dalam "rat race", hidup tanpa gol, hidup dari slip gaji bulan ini ke slip gaji bulan berikutnya. Seumur hidup.

Anehnya, mereka adalah orang-orang yang mengumandangkan doktrin "uang bukan segalanya". Padahal merekalah kaum yang bekerja sampai mati (atau sampai pensiun) untuk uang. Mereka orang dengan mental "orang suruhan" yang bekerja untuk orang lain. Kadang-kadang menjilat pantat boss. Tidak peduli mereka adalah direktur atau kepala bagian (yang mempunyai banyak bawahan), mereka tetaplah  orang-orang suruhan. Perbedaan mental mereka dengan bawahannya nyaris tidak ada, walaupun kelihatannya hebat. Toh, sama-sama orang dengan mental "orang suruhan". Kita tidak tahu berapa banyak surat lamaran yang manajer kita layangkan ke perusahaan lain sebelum akhirnya "diterima dengan sukses" di perusahaan tempat kita bekerja (lebih dulu dari kita).

Saya tidak tahu, di era informasi ini apa ada istilah keren untuk orang-orang dengan ciri yang saya sebut di atas. Tapi saya sendiri lebih suka menyebutnya "LOSERS".

So, buat saudara-saudaraku yang sudah mulai atau masih berencana membangun keluarga sendiri, kita punya tanggung-jawab yang besar sekali di depan mata. Jangan sampai anak-anak kita mewarisi nasehat nenek-moyangnya karena tentunya mereka (anak-anak bukan nenek moyang) akan menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari apa yang kita hadapi sekarang. Beri nasehat yang tepat untuk generasi yang tepat di saat yang tepat.

Wassalam,
yours forever

Andika a.k.a. Skywalker

nb :
Saya menulis ini dengan kesadaran penuh bahwa dari pengalaman semasa sekolah dan kuliah dulu, seringkali sebuah tulisan di dinding kampus yang isinya tidak memihak pada kita, tidak  mendapat banyak perhatian dari kita dan akan diabaikan begitu saja. Kadang-kadang dirobek.