A journey to the bottom of my heart
Kemarin saya mengatur waktu dengan seorang sahabat untuk bisa buka puasa bareng. Andika yang traktir, katanya. Ok, jawab saya. Meeting ini memang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari karena saya punya banyak hal rahasia yang selama lebih dari 10 tahun saya simpan, sejak SMA. Sahabat saya ini memang teman SMA yang walaupun kami sempat terpisah kota, tapi tidak pernah melupakan satu sama lain. Saya rasakan, dari dulu sampai sekarang kami memang seperti berkompetisi untuk saling berbuat baik satu sama lain. Yah… pada dasarnya sih saya memang menilai bahwa dia adalah manusia paling baik hati dan tulus yang pernah saya kenal langsung. Saya sendiri cuma mencoba untuk bisa membalas semua itu. Dia adalah wanita yang paling dekat dengan saya sejak SMA. Bahkan ketika SMA saya punya pacar pun, saya masih lebih dekat dengan sahabat saya ini dan lebih sering meluangkan banyak waktu dengan dia dibanding cewek manapun.
Pertemuan ini memang saya rencanakan karena, seperti yang sudah saya bilang, saya punya banyak rahasia pribadi yang tidak pernah saya bagikan ke siapapun juga. Saya bukan tipe curhat. Tapi, kali ini saya merasa perlu untuk memindahkan semua rahasia itu ke "backup device" yang lain, dengan alasan yang cuma saya sendiri yang tahu. Dan bukannya tanpa alasan saya memilih dia untuk itu. Sahabat saya ini memang orang yang paling mengerti saya. Dia orang pertama yang "berani" bilang ke saya bahwa saya ini sebenarnya sensitif. Gayanaji bedeng metal. Dia selalu bilang kalo dia itu selalu berhati-hati kalo ngomong ke saya karena sifat sensitif saya itu. Tapi pada saat yang bersamaan, dia juga tidak segan-segan berkata dan berbuat semaunya di depan saya. And I love her for that.
Akhirnya jadwal kami cocok dan saya jemput dia di rumahnya. Saya disambut ibunya yang baik hati di pintu depan dan langsung dipersilakan masuk. Kami tidak langsung berangkat karena sibuk memilih tempat makan mana yang asik. Sebagai bukti bahwa dia adalah orang yang paling mengerti saya, sejak masih di rumahnya saya sudah dituduh "Andika mau cerita sesuatu, kan?". Ya ampun, ini anak tau aja.
Akhirnya kami berangkat dengan Honda SupraFit seri 3 saya. Kami makan di restoran yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Dia sendiri katanya baru sekali ke situ sebelum ini. Di restoran itu, meja yang terisi cuma 2. Meja kita dan meja orang lain yang sudah lebih dulu datang. Tadinya mau makan nasi goreng, tapi nasinya habis so kami makan mie ala italy. Ajegile, seporsi banyak amat! Tapi karena saya sudah meng-upgrade hardware pencernaan saya ke kapasitas simpan yang lebih besar, porsi saya habis. Sementara dia, yang dari dulu ukurannya cuma segitu-gitu aja, yang lambungnya cuma sebesar tembolok burung parkit, ya gak habis lah. "Sori ya Andika, saya tidak bisa habiskan".
Di restoran, kita malah cerita macam-macam yang gak ada hubungannya sama sekali dengan maksud saya. Kita malah diganggu dengan HP masing-masing yang terus-terusan mengantarkan pesan yang harus dijawab dari dunia antah-berantah di luar sana. Apalagi saya memang seumur-umur gak pernah curhat atau cerita hal-hal yang saya anggap pribadi ke orang lain. Tidak pernah sekalipun. Jadi saya memang tidak terbiasa dengan setting curhat. Akhirnya setelah makan, ngobrol dan bercanda sebentar, kami pulang lagi ke rumahnya.
Di jalan pulang, sebelum sampai di rumahnya, saya akhirnya menyampaikan salah satu dari banyak tema utama yang rencananya mau saya bagikan. Pembicaraan yang sebenarnya baru terjadi setelah kita sampai di rumahnya, sekitar pk. 22 lebih. Di ruang tamunya, saya menyampaikan sebagian dari apa yang selama ini saya simpan sendirian. Hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang saya alami sejak sepuluh tahun yang lalu sampai sekarang, apa yang saya rasakan pada saat itu dan apa yang saya rasakan sekarang tentang peristiwa-peristiwa itu, sedikit demi sedikit terkopi ke sahabat saya yang setia mendengarkan saya, dengan kemampuan yang luar biasa untuk mengerti dan memahami saya.
Kami berulang-kali bernostalgia ke masa lalu. Betapa banyak hal yang tidak terungkapkan di masa lalu, yang akhirnya bisa saya ungkapkan di hadapannya, sahabat terbaik saya.
Jam 00.00 saya pulang. Saya bukannya tidak pernah lebih lama bertamu di rumahnya. Saya pernah sampai pk. 02.00 pagi di rumahnya hanya karena saya tidak rela melepas dia pergi lagi dari Makassar waktu itu. Tapi bulan Ramadhan gini mungkin gak baguslah ya kalo bertamu lebih lama dari itu. Itupun sudah kelamaan, mengingat dia harus berangkat kerja besok paginya.
Intinya, saya pulang dengan masih menyimpan banyak file untuk dikopi ke sahabat saya itu. Dan saya tahu pasti, dia dengan kebesaran jiwa yang berbanding terbalik dengan ukuran badannya, pasti akan bersedia menampungnya. Saya sangat percaya ke dia. Dia adalah orang yang paling pertama, paling sering dan paling banyak merasakan sakit hanya karena bersahabat dengan saya, ketika orang-orang dekat saya tidak bisa menerima kehadirannya, atau karena perilaku saya yang kadang-kadang mungkin membuatnya kecewa. Tapi sampai detik ini, dia masih gagah berdiri di samping saya. Hatinya adalah perpaduan sempurna dari jiwa seorang peri dan seekor raja rimba.
Sebelum berpisah, dia mengatakan ,"Andika, kamu boleh cerita apa saja ke saya. Bahkan, hal-hal yang tidak bisa kamu bagikan ke …*sensor*…."
Dia berjanji untuk meluangkan lagi waktunya beberapa hari ke depan untuk saya.
Di akhir perjumpaan kita malam itu, dia bertanya apakah puisi yang pernah dikirimkannya bertahun-tahun yang lalu untuk saya ketika kami terpisah kota, masih ada. Saya jawab,"Tentumi!"
Seorang Teman
Apakah yang disebut seorang teman ?
Saya akan mengatakannya…
Ia adalah seorang yang memberi kamu keberanian dalam menampilkan diri apa adanya.
Jiwamu bebas telanjang bersamanya, dia meminta kamu agar tidak berbaju dengannya. Hanya jadilah dirimu apa adanya, ia tidak ingin kamu lebih bahagia atau sedih. Jika kamu bersamanya, kamu adalah seorang pidana yang dinyatakan bebas. Kamu tak perlu membatasi diri, kamu dapat berbicara apa yang ada di pikiran. Selama itu adalah kamu yang sebenarnya.
Ia mengerti kontradiksi yang ada ditindaklakumu yang terkadang disalahartikan oleh orang lain. Dengannya kamu dapat membuka segala kesombongan, keirian dan amarah api, kejahatan dan keanehan yang ada dalam benak hatimu. Di dalam keterbukaan itulah segalanya menghilang dan mencair dalam laut kesetiaanya.
Dia mengerti kamu tidak harus berhati-hati. Kamu dapat menyakiti, tidak memperdulikan dan menerima dia. Yang paling membahagiakan adalah kenyataan dimana kamu tetap hadir di sampingnya dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Sebenarnya semua itu tidak penting. Dia suka padamu, dia bagaikan air jernih yang mengalir terus agar jiwamu bersih dan segar.
Dia mengerti kamu, kamu dapat menangis dengannya, berbuat dosa dengannya, tertawa dengannya, berdoa dengannya. Melalui itu semua dan mendalam, dia melihat, mengerti dan mencintaimu.
Seorang teman bertanya apakah yang disebut seorang teman ?
Hanya ada satu, saya ulangi…
Dia adalah seorang yang memberi kamu keberanian diri apa adanya.
(C. Raymond Beran)